draft by Fahmi Zahwan Khinana

Kematian ibu adalah kematian yang terjadi selama kehamilan atau kematian dalam 42 hari pasca terminasi atau pengguguran kehamilan tanpa memperhatikan lama atau tempat persalinan yang disebabkan atau diperberat oleh karena kehamilan itu sendiri atau pengelolaanya, tetapi tidak disebabkan karena kecelakaan atau sebab lain yang tidak berhubungan dengan kehamilan.1 Pengertian Maternal Mortality Ratio (Angka kematian Ibu atau AKI) adalah rasio jumlah kematian ibu hamil selama periode tertentu tiap 100.000 kelahiran yang diukur dalam periode yang sama.2 Pengertian tersebut berbeda dengan Maternal Mortality Rate yang merupakan angka kematian ibu yang dilihat secara tahunan.2

Penyebab kematian Ibu hamil secara global termasuk di Indonesia masih didominasi oleh tiga penyebab utama, yaitu perdarahan, hipertensi yang diinduksi kehamilan, dan infeksi.3 Menurut Laporan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Provinsi tahun 2011, jumlah kematian ibu yang dilaporkan sebanyak 5.118 jiwa. Penyebab kematian ibu terbanyak masih didominasi perdarahan (32%), disusul hipertensi dalam kehamilan (25%), infeksi (5%), partus lama (5%), dan abortus (1%). Penyebab lain-lain (32%) cukup besar, termasuk didalamnya penyebab penyakit nonobstetrik.4

Pada tahun 1987 World Health Organizatiom (WHO) mengeluarkan program Safe motherhood initiative. Saat itu Indonesia segera melakukan respon dengan mengeluarkan kebijakan pembangunan KIA. Pada tahun 1990 AKI di Indonesia menyentuh angka 390 per 100.000 kelahiran, lalu pada tahun 1997 Indonesia dianggap sukses oleh WHO dalam menurunkan AKI menjadi 334 per 100.000 kelahiran. Dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 AKI di Indonesia tercatat mengalami penurunan menjadi 228 per 100.000 kelahiran sejalan dengan harapan untuk mencapai target MDGs 2015. Namun, data dari SDKI 2012 AKI di Indonesia melonjak tajam menjadi 359 per 100.000 kelahiran, sangat jauh dari target MDGs tahun 2015 menjadi 102 AKI per 100.000 kelahiran.5 Sementara itu target AKI berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pada tahun 2019 adalah 306 per 100.000 kelahiran.33

Data yang terhimpun dalam SDKI 2012 menunjukkan penggunaan kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate) cenderung meningkat menjadi 61,9%, mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014 yaitu 60,1%. Sementara itu, tren angka fertilitas (Total Fertility Rate/TFR) cenderung menurun menjadi 2,6 pada tahun 2012 dari 2,9 pada tahun 1994, tetapi angka ini belum mencapai target RPJMN 2014 sebesar 2,36. Tren ini menggambarkan meningkatnya cakupan wanita usia 15-49 tahun yang melakukan Keluarga Berencana (KB) sejalan dengan menurunnya angka fertilitas nasional.6 Di lain pihak, fertilitas remaja (usia 15-19 tahun) masih tinggi yaitu sebesar 48 kelahiran per 1000 remaja.5

Peningkatan AKI pada SDKI 2012 dimungkinkan karena ada perubahan dalam metode survei yang berbeda dengan metode survei pada SDKI 2007. Pengamblan sampel SDKI 2012 bergeser dari perempuan yang sudah menikah pada SDKI 2007 menjadi perempuan usia subur (PUS), sehingga terjadi peningkatan AKI. Selain itu TFR yang belum memenuhi target, menjadi indikasi lain masih tingginya jumlah persalinan di Indonesia. Selain itu koordinasi lintas sektor yang belum berjalan dengan baik dalam program kependudukan dan keluarga berencana (KKB) menjadi faktor kunci meningkatnya AKI di Indonesia.5

Milleinum Development Goals (MDGs) akan dinyatakan berakhir pada tahun 2015 dan  dilanjutkan dengan pembangunan pasca 2015 yaitu program Sustainable Development Goals (SDGs). Pada Juli 2014, draft kerangka kerja SDGs memiliki 17 targetan. Dalam targetan nomor 3 mengenai ketercakupan kesehatan yang semakin luas untuk memastikan hidup sehat dan sejahtera bagi semua kalangan. Pada subtargetan tersebut disebutkan bahwa pada tahun 2030 MMR atau AKI dalam skala global turun kurang dari 70 per 100.000 kelahiran.7. Sungguh ini merupakan tantangan yang tidak mudah bagi Indonesia melihat fakta yang ada saat ini.

Program pemerintah untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil sebenarnya sudah cukup banyak, salah satunya adalah jaminan persalinan (Jampersal). Jampersal adalah jaminan pembiayaan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir. Program jampersal ini akan sejalan dengan program KB.8

Program jampersal berlaku dengan ketentuan sama di seluruh wilayah Indonesia dengan mengedepankan asas portabilitas. Keberadaan Jampersal ini diharapkan mengurangi hambatan finansial untuk melakukan akses terhadap pelayanan selama kehamilan dan pasca melahirkan.9 Ada empat kelompok yang menjadi sasaran program, yaitu Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas (hingga 42 hari pasca melahirkan), dan bayi baru lahir hingga usia 28 hari.8

Program lain berupa sosialisasi pemerintah mengenai faktor tidak langsung dalam kematian Ibu hamil berupa program 3 terlambat 4 terlalu.4

Tiga terlambat:

  1. Terlambat mengenali tanda bahaya persalinan dan mengambil keputusan
  2. Terlambat dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
  3. Terlambat ditangani oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan

Empat terlalu:

  1. Terlalu tua hamil (di atas usia 35 tahun) sebanyak 27%
  2. Terlalu muda untuk hamil (di bawah usia 20 tahun) sebanyak 2,6%
  3. Terlalu banyak (jumlah anak lebih dari 4) sebanyak 11,8%
  4. Terlalu dekat (jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun)

Program lain pemerintah dalam peningkatan persalianan yang ditolong tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan adalah pengembangan rumah tunggu kelahiran.4 Rumah tunggu kelahiran adalah suatu tempat atau ruangan yang berada dekat fasilitas pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, poskesdes/polindes), yang dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi ibu hamil dan pendampingnya (suami/kader/dukun/keluarga) selama beberapa hari saat menunggu persalinan tiba hingga beberapa hari setelah melahirkan.10

Rumah mitra sehat adalah salah satu rumah tunggu kelahiran yang berada di Desa Nilo Dingin, Kecamatan Lembah Masurai, Kab. Merangin, Provinsi Jambi. Latar belakang didirikan rumah mitra sehat ini adalah karena jarak tempuh untuk mencapai fasilitas pelayanan kesehatan selama 1-6 jam dengan jalan kaki. Sejauh ini sudah lebih dari 70 ibu bersalin telah memanfaatkan rumah tunggu mitra sehat.10

Selain itu, program pemerintah dari segi peningkatan dukungan manajemen program kesehatan ibu dan reproduksi salah satunya dengan optimalisasi Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) untuk monitoring kegiatan bulanan, tribulanan, semester, dan tahun.4 Menurut keterangan dari Direktorat Bina Kesehatan Ibu Kemenkes, software PWS Kartini terbukti bermanfaat sebagai alat bantu bagi puskesmas dalam mempermudah pemantauan wilayahnya.11

Saat ini kewenangan bidan diperluas oleh pemerintah guna memperbaiki ketercapaian target KIA di Indonesia. Kewenangan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Izin dan penyelenggaran praktik bidan dan kewenangan yang dimiliki bidan. Kewenangan tersebut  yaitu kewenangan normal (pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana), kewenangan dalam menjalankan program pemerintah, dan kewenangan bidan yang menjalankan praktik di daerah yang tidak memiliki dokter.12 Dengan adanya peraturan ini maka akan semakin memperjelas ranah kerja untuk memperkecil benturan antarprofesi serta lebih nyaman saat melakukan tatalaksana.

Terdapat pula program penguatan mitra antara dukun dan bidan sehingga bisa saling bantu selama penanganan kehamilan. Program ini bertujuan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas. Kerjasama saling menguntungkan ini berprinsip pada keterbukaan, kesetaraan, dan kepercayaan dalam upaya menyelamatkan ibu dan bayi sesuai dengan kesepakatan yang melibatkan seluruh elemen masyarkat setempat.13

Program intervensi langsung saat kehamilan juga sudah diterapkan, seperti program manajemen aktif kala III yang meliputi tindakan pemberian uterotonika (oksitosin) profilaksis, penjepitan segera tali pusat pasca lahirnya bayi, dan peregangan tali pusat terkendali untuk melahirkan plasenta. Manajemen Aktif Kala III ini terbukti efektif untuk mencegah perdarahan pasca persalinan. Program ini diharapkan mampu berkontribusi dalam menurunkan AKI di Indonesia yang masih tinggi.14

Upaya lain yang sudah dilakukan pemerintah adalah meluncurkan program Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) dengan meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 rumah sakit (PONEK) dan 300 puskesmas/balkesmas (PONED) dan memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar Puskesmas dan Rumah Sakit. Dalam pelaksanaannya di lapangan, upaya tersebut dilakukan dengan pendekatan “Vanguard”, yaitu Memilih dan memantapkan sekitar 30 RS dan 60 puskesmas yang sudah cukup kuat agar berjejaring dan dapat membimbing jaringan kabupaten yang lain, dan melibatkan RS/RB swasta untuk memperkuat jejaring sistem rujukan di daerah.15

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes menunjukkan peningkatan cakupan pelayanan antenatal bagi ibu hamil. Pelayanan antenatal pertama kali tanpa memandang trimester kehamilan meningkat menjadi 95,2% dari 92,7% pada tahun 2010. Pelayanan antenatal pertama kali pada trimester I kehamilan meningkat menjadi 81,3% dari 72,3% pada tahun 2010. Sedangkan pelayanan antenatal sekurang-kurangnya empat kali kunjungan meningkat menjadi 70% dari 61,4% pada tahun 2010.16

Masih merujuk pada Riskesdas tahun 2013, proporsi ibu hamil yang persalinannya ditolong tenaga kesehatan meningkat menjadi 86,9% dari 79% pada tahun 2010. Kurang lebih 76,1% persalinan sudah dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan dan poskendes/polindes, sisanya sebesar 23,7% masih melahirkan di rumah. Pelayanan kesehatan ibu nifas melonjak tajam menjadi 81,7% dari 46,8% pada tahun 2010.16

Salah satu tantangan yang dihadapi pemerintah adalah menurunkan proporsi anemia pada Ibu hamil yaitu ibu hamil dengan kadar Hb kurang dari 11 gram/dl. Berdasarkan Riskesdas 2013 proporsi anemia pada ibu hamil sebesar 37,1% dengan proporsi yang tidak jauh beda antara kawasan perkotaan (36,4%)  dan pedesaan (37,8%).16 Menurut keterangan website resmi kemenkes, tantangan lain yang dihadapai adalah menurunkan proporsi malaria pada ibu hamil karena sebesar 1,9% ibu hamil positif terkenal malaria dengan Rapid Diagnostic Test, dimana yang paling banyak adalah malaria falsiparum.16 Ibu hamil yang terkena malaria memiliki riskio mengalami anemia dan perdarahan, serta kemungkinan melahirkan bayi dengan BBLR.17

Proporsi Wanita Usia Subur (WUS) dengan Kurang Energi Kronis (KEK), yaitu WUS dengan lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm, mengalami peningkatan menjadi 38,5% dari 31,3% pada tahun 2010. Tren serupa juga terjadi pada WUS usia 15-19 tahun yang tidak hamil menjadi 46,6% menjadi 30,9% pada tahun 2010.16 Kondisi ini berpotensi memperburuk kondisi Ibu hamil dan bayi.

Permasalahan lain yang dihadapi adalah sosialisasi pemerintah yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat luas terutama pedesaan karena tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah. Selain itu ada budaya dan kepercayaan tertentu yang belum sejalan dengan program kesehatan ibu dan anak.16 Menurut keterangan dari bidan puskesmas Jetis I Bantul pada tahun 2013, permasalahan yang dihadapi adalah manajemen sumber daya manusia yang ada, karena banyak bidan dan dokter sudah diberikan pelatihan sesuai tugas pokok dan fungsi kurang memiliki motivasi dan komitmen untuk mengimplementasikan komepetensi yang sudah diperoleh. Hal ini karena ada dua kemungkinan, pertama karena monitoring dan evaluasi yang berjalan kurang optimal dan kedua kurangnya payung hukum terutama bagi petugas yang mengalami kegagalan saat intervensi tatalaksana. Selain itu, dari segi fasilitas dari 6 PONED yang ada di bantul hanya ada 1 puskesmas yang memenuhi kriteria PONED.15

Pemerintah perlu menguatkan kembali program yang informatif mengenai kesehatan reproduksi kepada remaja. Permasalahan remaja yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi biasanya karena infromasi yang kurang, pemahaman yang buruk, dan belum adanya kesadaran untuk mengethaui keadaan sehat secara reproduksi.18 Selain itu juga terdapat peningkatan kehamilan WUS pada usia 15-19 tahun, sehingga peran pemerintah untuk intervensi pada remaja harus lebih intensif.

Masyarakat kita, terutama yang tinggal di pedesaan perlu diberikan pemahaman tentang usia hamil yang paling optimal sehingga meminimalkan risiko-risiko selama kehamilan. Menurut Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) secara biologis masa optimal seorang wanita untuk memiliki anak antara 20-35 tahun. Jika melebihi pada masa rentang tersebut akan meningkakan risiko selama kehamilan seperti keguguran, kehamilan luar rahim, dan komplikasi kehamilan lain.19 Selain itu, kehamilan sebelum usia 20 tahun berbahaya baik secara biologis maupun kejiwaan.20

Untuk menekan laju pertumbuhan dan meningkatkan kualitas penduduk yang tidak hanya dari segi jumlah, maka program Keluarga Berencana (KB) yang sudah dirintis pemerintah sejak tahun 1970 perlu untuk tetap dijalankan. Hal ini dilakukan sehingga pertumbuhan kualitas kesehatan ibu dan anak bisa berjalan optimal serta kehamilan berisiko bisa dicegah.21 Berbagai alasan banyak mencuat saat ini mengemukakan pertanyaan mengenai ketidakmulusan  program KB, mulai dari hak asasi manusia, agama, dan keengganan22. Hal ini tentunya akan menjadi tantangan kedepan bagi pemerintah. Sebagai informasi tambahan, saat ini pengguna kontrasepsi sekitar 93,66% adalah perempuan dan 6,34% laki-laki21.

1000 hari kehidupan untuk generasi Indonesia cerdas

Hal yang tidak kalah penting dalam aspek KIA adalah asupan nutrisi dalam 1000 hari pertama kehidupan anak atau yang biasa dikenal dengan sebutan Golden Period. Golden Period ini terdiri dari 5 tahapan, yaitu saat dalam kandungan (280 hari), usia 0-6 bulan (180 hari), usia 6-8 bulan (60 hari), usia 8-12 bulan (120 hari), dan usia 12-24 bulan (360 hari).23

Balita pada usia 0-3 tahun sangat membutuhkan kecukupan nutrisi yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang. Pada masa usia ini pemberian gizi yang cukup dan seimbang akan sangat berpengaruh pada otak, sistem imun, dan juga kesehatan fisik sang balita. Faktor nutrisi atau gizi menjadi kebutuhan dasar setiap anak dan dapat memberikan dampak buruk jika kebutuhan akan gizi tidak terpenuhi dengan baik. Pada usia-usia ini menu untuk anak sebaiknya bervariasi dan memiliki kecukupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang disesuaikan dengan kebutuhan.24 Ibu juga perlu mengetahui transisi pemberian makan mulai dari makanan cair atau lumat (6-8 bulan), lembek dan lunak/semi padat (8-12 bulan), dan padat (12-24 bulan).23

Selain itu pada 6 bulan pertama perlu ditekankan untuk pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih, hingga usia bayi 6 bulan. Setelah 6 bulan bayi mulai dikenalkan dengan makanan pendamping ASI, ASI tetap diberikan hingga dua tahun.25

ASI ekslusif penting, baik untuk Ibu maupun bayi. Secara umum ASI bermanfaat untuk mencerdaskan dan menyehatkan bayi. Selain itu, pemberian ASI ekslusif bisa menjadi sarana untuk menjalin kedekatan antara Ibu dengan bayi. Manfaat pemberian ASI bagi ibu yaitu selain melepaskan ketegangan pada payudara juga memperkecil resiko kanker ovarium dibandingkan dengan ibu yang tidak memberikan ASI. ASI tetap unggul dibandingkan dengan susu formula karena ASI mengandung zat omega 6, laktosa, taurin, DHA, AA, protein, lemak, laktobasus, vitamin A, zat besi, laktoferin, dan lisozim.25

Riskesdas tahun 2013 menunjukkan cakupan ASI di Indonesia mengalami peningkatan menjadi 42% dari 32% dari data Riskesdas 2007. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa cakupan presentase ini masih dibawah 50% sebagaimana target cakupan yang ditentukan oleh WHO.16 Saat ini angka kelahiran di Indonesia yang mencapai 4,7 juta per tahun, sehingga bisa diambil kesimpulan bayi yang menerima ASI tidak mencapai separuhnya.26

Kegagalan dalam pemberian ASI ekslusif sangat beragam. Untuk kendala berupa lingkungan kerja yang tidak mendukung dalam pemberian ASI ekslusif pemerintah sudah memberikan dukungan nyata melalui PP nomor 33 tahun 2012 mencakup fasilitas dan aturan yang mempermudah ibu memberikan atau memerah ASI saat jam kerja.26 Selain itu terdapat pula hambatan budaya yang menganggap bayi perlu nutrisi dari sumber lain pada 6 bulan awal kehidupan. Beberapa ibu menganggap pemberian ASI selama 6 bulan tidak praktis, sehingga lebih memilih untuk tidak memberikan ASI ekslusif pada sang bayi.27

Kesuksesan dalam pemberian ASI ekslusif memerlukan kerjasama lintas sektoral sehingga makin banyak pihak yang terlibat dalam mempercepat peningkatan cakupan pemberian ASI ekslusif di Indonesia. Tantangan dalam kesuksesan pemberian ASI terletak pada dukungan lingkungan sang Ibu. Solusi jangka panjang yang bisa diaplikasikan dengan memberikan cuti selama 6 bulan untuk ibu pasca melahirkan.26

Faktor paling berpengaruh terhadap kesuksesan ASI ekslusif adalah tingkat pengetahuan orangtua, terutama Ibu. Saat paling baik dilakukan pemberian informasi adalah saat pemeriksaan antenatal dengan memberikan pengetahuan komprehensif tentang hak bayi untuk mendapatkan inisiasi menyusui dini (IMD) dan larangan pemberian makanan tambahan selama 6 bulan kehidupan. Jika pemberian informasi ini pasca persalinan, dianggap sudah terlambat.32

Imunisasi sebagai salah satu cara sehatkan anak Indonesia

Imunisasi merupakan pemberian kekebalan tubuh kepada seseorang terhadap suatu penyakit tertentu dengan memasukkan zat tertentu ke dalam tubuh sehingga terbentuk antibodi terhadap penyakit tertentu.28 Imunisasi penting untuk mencegah sakit berat di kemudian hari.29

Sejauh ini 194 negara menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat untuk mencegah sakit berat, wabah, cacat, dan kematian akibat penyakit berbahaya. Jika banyak bayi balita yang tidak di imunisasi maka akan terjadi wabah, sakit berat, kematian, atau cacat. Beberapa diantaranya adalah wabah polio tahun 2005-2006 dari Sukabumi menjalar ke Banten, Lampung, Jawa timur, Jawa tengah dalam waktu beberapa bulan menyebabkan 351 balita lumpuh seumur hidup. Selain itu perlu pula memberikan ASI dan makanan pendukung ASI untuk menjaga kesehatan bayi balita.29

Isu tidak baik mengenai ASI yang berkembang di masyarakat mengenai ASI perlu diluruskan bersama sehingga tidak ada masyarakat yang anti dengan imunisasi. Reaksi pasca imunisasi seperti demam, kemerahan, dan bengkak pada tempat suntikan merupakan efek samping yang wajar, tidak berbahaya dan akan menghilang dalam beberapa hari.29

Terdapat 5 imunisasi dasar wajib yang diberikan sejak Bayi, sebagai berikut30:

  • Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) sekali untuk mencegah tuberkulosis, diberikan segera setelah bayi lahir di tempat pelayanan kesehatan atau mulai satu bulan di Posyandu.
  • Imunisasi Hepatitis B sekali untuk mencegah penyakit hepatitis B yang ditularkan dari Ibu saat persalinan.
  • Imunisasi DPT-HB tiga kali untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, tetanus dan hepatitis B. Pertama kali diberikan saat berusia dua bulan, berikutnya berjarak 4 minggu. Biasanya bersamaan dengan pemberian imunisasi Hepatitis B.
  • Imunisasi polio untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit polio diberikan sebanyak empat kali dengan jarak 4 minggu.
  • Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak diberikansaat bayi berusia 9 bulan

Cara yang paling mudah untuk pemantauan gizi pada anak balita bisa dilakukan dengan penghtungan Z score, sehingga orang tua mengetahui status gizi, tinggi badan,dan berat badan apakah sesuai dengan usia pertumbuhan si anak atau tidak. Apabila tidak sesuai maka bisa dilakukan intervensi dini untuk memperbaiki status yang dimiliki sang anak.31

Pemerintah memiliki peran penting dalam memperbaiki status gizi generasi bangsanya sebagai inisiator, fasilitator, dan motivator dalam perbaikan aspek kesehatan ibu dan anak Indonesia. Apabila intervensi  yang diberikan optimal maka kualitas generasi bangsapun akan semakin membaik, bukan hanya dari segi kuantitas tapi juga dari segi kualitas.

Pemerintah dapat melakukan perbaikan dengan menggunakan pendekatan daerah sebagaimana yang disampaikan oleh dr. Anung Trihadi saat diskusi publik kesehatan ibu dan anak yang diselenggarakan oleh departemen Kasrtsrat BEM FK UGM sebagai berikut:

  • Kelompok 1: Cakupan persalinan tinggi jumlah kematian ibu kecil. Contoh: DIY, Bali, dan DKI Jakarta
  • Kelompok 2: Cakupan persalinan tinggi, jumlah kematian ibu besar. Contoh: Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat
  • Kelompok 3: Cakupan persalinan rendah , jumlah kematian ibu kecil. Contoh: Papua Barat
  • Kelompok 4: Cakupan persalinan rendah, jumlah kematian ibu besar. Contoh: Papua, Maluku, dan NTT

Selain itu, pemerintah harus menjalankan program secara terfokus dengan intervensi terpadu berbagai pihak yang terlibat pada 9 provinsi prioritas Kementerian kesehetan RI yang terbagi menjadi 64 kabupaten/kota untuk percepatan penurunan AKI serta perbaikan gizi, termasuk penurunan angka kematian bayi.33 Dengan kemauan dan komitmen berbagai pihak maka perbaikan pencapaian target KIA bukan lagi hal yang mustahil di Indonesia.

-o-

Referensi:

  1. Maternal mortality ratio. 14 September 2015. http://www.who.int/healthinfo/statistics/indmaternalmortality/en/
  2. The Official UN site for MDGs. Improve maternal health. 13 September 2015. http://mdgs.un.org/unsd/mdg/Metadata.aspx?IndicatorId=0&SeriesId=553
  3. Requejo JH & Bhutta ZA. 2014. The post-2015 agenda: staying the course in maternal and child survival. BMJ: Archieve of disease in childhood. England
  4. Direktorat Bina Kesehatan Ibu, Dithen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kemenkes
  • 2012. Factsheet upaya percepatan penurunan angka kematian ibu. Kemenkes RI.
  1. Saputra W. 2013. Angka kematian ibu (AKI) melonjak, Indonesia mundur 15 tahun.
  • Prakarsa policy review. Jakarta, Indonesia.
  1. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Kemenkes RI. Data dan
  1. Maternal health task force (MHTF). Post-2015: What’s next for maternal health?. School
  1. Dinas kesehatan Kab. Balangan. 2011. Program Jaminan Persalinan (Jampersal).
  • Kalimantan Selatan.
  1. Kesehatan Ibu, Kemenkes RI. 2012. Juknis Jampersal 2012. Website kesehatan Ibu
  • Kemenkes RI. Jakarta.
  1. Kesehatan Ibu, Kemenkes RI. 2012. Rumah tunggu kelahiran “Mitra Sehat” Kab. Merangin Jambi. Website kesehatan Ibu Kemenkes RI. Jakarta
  2. Kesehatan Ibu, Kemenkes RI. 2012. Software PWS KIA “Kartini” akan terus dikembangkan. Website kesehatan Ibu Kemenkes RI. Jakarta
  3. Kesehatan Ibu, Kemenkes RI. 2012.Kewenangan Bidan Sesuai Permenkes Nomor 1464 Tahun 2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik Bidan. Website kesehatan Ibu Kemenkes RI. Jakarta
  4. Kemenkes RI. 2004. Pedoman Pelaksanaan Kemitraan Bidan dan Dukun. Kemenkes RI.
  • Jakarta, Indonesia.
  1. Kesehatan Ibu. Manajemen Aktif kala III terbukti efektif mencegah perdarahan pasca
  1. Website Kesehatan Ibu. Peluncuran program EMAS. 13 September 2015. http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/371#more-371
  2. Badan penelitian dan pengembangan kesehatan Kemenkes RI. 2014. Riset kesehatan
  • dasar tahun 2013. Kemenkes RI. Jakarta, Indonesia.
  1. Website Kesehatan Ibu. Hasil riskesdas 2013 terkait kesehatan Ibu. 13 September 2015. http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/678
  2. Program-program Kesehatan Reproduksi Remaja. 12 September 2015. https://www.k4health.org/toolkits/indonesia/program-program-kesehatan-reproduksi-remaja.
  3. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. RCOG statement on later maternal age. 15 September 2015. https://www.rcog.org.uk/en/news/rcog-statement-on-later-maternal-age/
  4. Jangan Hamil di Usia Kurang 20 Tahun, Bahaya! Kenali Risikonya!. 15 September 2015. http://m.liputan6.com/health/read/688443/jangan-hamil-di-usia-kurang-20-tahun-bahaya-kenali-risikonya
  5. Pusat data dan informasi kemenkes RI. 2014. Situasi dan analisis Keluarga Berencana. Kemenkes RI. Jakarta, Indonesia
  6. BKKBN Kepulauan Riau. Slogan KB 2 anak lebih baik. 15 September 2015. http://kepri.bkkbn.go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?ID=109&ContentTypeId=0x01003DCABABC04B7084595DA364423DE7897)
  7. Lestari WS. 1000 hari pertama kehidupan. 14 September 2015 https://wiwiksunaryatipujilestari.wordpress.com/2015/02/24/1000-hari-pertama-kehidupan/
  8. Novianingsih D. Perhatikan Nutrisi Anak Di Masa Golden Period. 14 September 2015. http://ibudanmama.com/kesehatan/kesehatan-keluarga/perhatikan-nutrisi-anak-di-masa-golden-period/
  9. Dinas kesehatan Kab. Pamekasan. Pentingnya ASI ekslusif. 14 September 2015. http://dinkes.pamekasankab.go.id/index.php/berita/174-pentingnya-asi-ekslusif
  10. Widiyani R. Cakupan ASI 42 Persen, Ibu Menyusui Butuh Dukungan. 14 September 2015. http://health.kompas.com/read/2013/12/21/0917496/Cakupan.ASI.42.Persen.Ibu.Menyusui.Butuh.Dukungan
  11. Unicef Indonesia. ASI eksklusif, artinya ASI, tanpa tambahan apapun. 14 September 2015 http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_19398.html
  12. Arti definisi/pengertian imunisasi, tujuan, manfaat, cara, dan jenis imunisasi pada manusia. 13 September 2015 http://www.organisasi.org/1970/01/arti-definisi-pengertian-imunisasi-tujuan-manfaat-cara-dan-jenis-imunisasi-pada-manusia.html
  13. Pentingnya imunisasi bayi dan balita. 14 September 2015 http://www.rscm.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=112:pentingnya-imunisasi&catid=85:rscm-news&Itemid=435&lang=id
  14. Imunisasi Dasar pada Bayi. 14 September 2015 http://www.imunisasi.net/Imunisasi%20Dasar%20pada%20Bayi.html
  15. Cara menghitung Z score pada anak. 14 September 2015. http://www.academia.edu/9614399/Cara_Menghitung_Z-Score_Status_Gizi_Anak_
  16. Fikawati S dan Syafiq A. 2009. Penyebab keberhasilan dan kegagalan praktik pemberian ASI ekslusif. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Indonesia: Jakarta.
  17. Trihadi A. 2015. Implementasi Program Kesehatan Ibu dan Anak di DIY. Diskusi Publik departemen Kasristrat BEM FK UGM. Yogyakarta
Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *