Lomba Essay Hari Kebangkitan Nasional ISMKI 2014

Ini adalah essay yang terbaik dalam Lomba Essay Hari Kebangkitan Nasional ISMKI 2014. Selamat untuk pemenangnya, dan selamat membaca bagi pengunjung web ini 🙂

— — — — —

Mahasiswa Kedokteran Bertapa di Jalan Nestapa Kebangsaan

Hidup manusia, menurutku, haruslah mengakar pada tanah kelahirannya, di mana dia akan dilimpahi kasih sayang yang lembut dari pada kerabatnya. Kasih yang akan dia berikan untuk wajah sang bumi, untuk para pekerja yang berlalu lalang di hamparannya, untuk suara-suara maupun logat-logat bahasa yang dikenalnya, untuk ciri khas yang begitu akrab pada rumah asal-usulnya, di tengah hadirnya wawasan baru. Menurutku, cara terbaik untuk belajar astronomi adalah dengan membayangkan langit malam di atas sana sebagai gugusan bintang-bintang kecil yang bertumbuh dari pekarangan rumah kita sendiri

— George Elliot

Hari ini, ketika berbicara tentang mahasiswa kedokteran, kita tidak lagi dihadapkan bagaimana menciptakan seorang mahasiswa yang kritis. Aktivis kampus yang dihadapkan dengan realitas identitas sebagai agent of changes, sosial control, dan iron stock. Kisah-kisah heroik arah revolusi bangsa akrab dicetuskan oleh mahasiswa kedokteran. Sekelompok manusia unggul Indonesia itu kini sedang berada di jalan sepi menaklukkan dirinya sendiri.

Apa yang terjadi pada kondisi mahasiswa kedokteraan sebenarnya merupakan gambaran bahwa mahasiswa belum pernah tuntas dari kisah romantis pergerakan masa lalu. Perbedaan realitas zaman meniscayakan sebuah kebuntuan berpikir dan bertindak. Masih segar dalam beberapa jenjang pengaderan, cerita sekumpulan mahasiswa STOVIA yang berinisiatif membentuk Boedi Oetomo. Konon katanya, organisasi yang dirintis oleh dr. Wahidin Sudirohusodo pada tanggal 20 Mei 1908 menjadi pondasi awal sekelompok pemuda mencetuskan Sumpah Pemuda.

Melawan Kesenjangan

Sewaktu mengikuti pengaderan kadang beberapa mahasiswa, termasuk saya, sangat ragu untuk mengajukan sebuah pertanyaan mengenai kisah pergerakan mahasiswa kedokteran. Keraguanku apakah benar sehebat itukah. Ketakutan yang ditabrakkan dengan realita menjadikan sebuah pengalaman negativitas. Atau jangan-jangan ia hanya satu dari sekian banyak dongeng untuk meninabobokan menjelang malam.

Mahasiswa kedokteran kini dihadapkan kepada suatu kesenjangan moral. Sekumpulan manusia unggul di bumi Indonesia yang lupa bagaimana bertanggungjawab atas pengetahuannya. Bukan kebetulan kesenjangan bangsa hari ini dapat disumbangkan oleh mereka. Kebuntuan menciptakan visi baru buat Indonesia.

Ada ketidaksesuaian antara apa yang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi. Lembaga kemahasiswaan yang seharusnya mencetak calon pemikir baru telah menjelma menjadi ruang kosong. Lembaga kemahasiswaan telah jauh mundur, perbincangannya hari ini, sadar atau tidak sekaligus melibatkan tentang apa yang bukan lembaga kemahasiswaan. Lembaga kemahasiswaan harus menafsirkan ulang berdasarkan prinsip perbedaan dan pembedaan. Pembedaan lembaga kemahasiswaan tidak saja pembedaan secara fisik, tetapi juga pembedaan isi, konsep, dan makna. Ada perbedaan makna atau konotasi di balik realitas fisik.

Dalam sebuah karya Erving Goffman, The Presentation of Self in EveryDay, dikemukakan sebuah teori dramaturgy. Goffman melihat bahwa citra, lakon, dan kuasa berlangsung dalam berbagai arena sosial. Lebih jauh, dia membagi pada dua bidang penampilan, yakni panggung depan (front stage) dan panggung belakang (backstage). Goffman melihat bahwa ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung dann di belakang panggung drama kehidupan.

Teori dramaturgy secara tidak langsung membuka topeng lembaga kemahasiswaan hari ini. Lembaga kemahasiswaan saat ini adalah sebuah fenomena politik yang di dalamnya beroperasi berbagai bentuk relasi kekuasaan; didalamnya terjadi perebutan kekuasaan terus-menerus di antara kelompok sosial. Tidak heran kemudian terjadi gejala neo-eksistensialis antar golongan.

Fungsi politik lembaga kemahasiswaan pasca reformasi yakni sebagai lembaga perjuangan perlu diberikan sebuah tanda tanya besar. Politik sebagaimana asal katanya polis adalah asosiasi manusia yang lebih besar dari kampung, yang tujuannya bukan untuk sekedar hidup, melainkan hidup yang layak. Komunitas manusia yang bertujuan untuk mewujudkan kebaikan utama (highest good) kata Aristoteles memandang politik. Ketika diperhadapkan kepada sebuah tanya hendak ke mana lembaga kemahasiswaan, maka begitu sulit untuk dijawab karena menyangkut begitu banyak pandangan serta perdebatan tentang tujuan perjuangan itu sendiri.

Menggapai asa bersama

Momentum perenungan mahasiswa kedokteran dalam menaklukkan diri sendiri harus segera dituntaskan. Nestapa kebangsaan yang belum lepas dari keterpurukan mental agar kesenjangan bisa lenyap. Mahasiswa kedokteran hari ini bukan hanya dicetak lewat andil tata kelola pendidikan penyelenggara pendidikan kedokteran, melainkan lembaga kemahasiswaan turut mengambil peran di dalamnya.

Mahasiswa kedokteran mengalami penafsiran ulang untuk dibentuk menjadi seorang dokter. Bukan hanya mampu mengobati individu yang sakit, tetapi harus sanggup menyembuhkan 2500 orang yang dipercayakan kesehatannya. Untuk mampu mencapai ke sana dibutuhkan sebuah perjalanan panjang memahami masyarakat. Belum lagi kita meneropong nasib dokter di era AFTA 2015.

Lembaga kemahasiswaan kedokteran mempunyai pekerjaan rumah yang banyak. Indonesia saat ini berbeda dengan Indonesia saat memperebutkan kemerdekaan. Indonesia di zaman globalisasi bertarung menjamu tamu dan beriringan menjaga identitas kebangsaan. Indonesia adalah tempat bertemu dan silang menyilangkan manusia dari berbagai suku, ras, agama, bangsa, profesi yang mana semuanya saling berinteraksi.

Kondisi kelembagaan mahasiswa kedokteran bukan lagi menciptakan calon dokter yang wajib menguasai kompetensinya, tetapi menciptakan calon dokter yang dapat meneropong nasib bangsa di tahun berikutnya. Seorang calon dokter bertaraf global, dokter yang dibentuk dari berbagai garis pertemuan di antara berbagai pertemuan elemen, di mana berlangsung berbagai interaksi,saling bersinggungan, bahkan saling menyilang. Calon dokter yang tidak hanya memandang manusia sebagai seonggok daging, tetapi sebagai seorang manusia yang memiliki jiwa. Dokter yang sudah lepas dari paradigma segmental yang sudah tuntas dalam problem multikultural.

Lembaga kemahasiswaan kedokteran bergerak dalam banyak warna, tanpa memperdebatkan warna apa yang paling layak untuk memimpin jalur rel kelembagaan. Asosiasi manusia yang bisa menghimpun segenap elemen Indonesia dalam satu langkah harmonis. Kesenjangan, ketidakseimbangan, asimetri, dan ketidakadilan khas problematika multikultural yang kerap melanda bangsa Indonesia.

Kelembagaan mahasiswa kedokteran Indonesia harus bisa menjawab tantangan itu sebelum berbicara mengenai kompleksnya permasalahan ASEAN di era AFTA. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin, kaum elite negera, bahkan bagaimana menciptakan Indonesia sebagai pemimpin dan negara mulia di tataran Asia Tenggara. Calon dokter yang hadir di Indonesia harus terlebih dahulu mengarungi derasnya ombak di kelembagaan mahasiswa.

Mahasiswa kedokteran yang mampu memformulasikan bagaimana berinteraksi secara Indonesia dan juga global khususnya di tataran Asia Tenggara. Keran ini sudah dibuka oleh para penyelenggara pendidikan kedokteran. Kelas internasional nampak sudah lazim di berbagai fakultas kedokteran di Indonesia. Mahasiswa berasal dari berbagai mancanegara, Malaysia dan India, sudah hadir. Pertanyaannya sudahkah diporsikan peran mereka dalam keberlangsungan lembaga mahasiswa itu sendiri.

Bukan hal yang basi jika kelembagaan mahasiswa adalah sebuah laboratorium untuk memahami masalah kebangsaan. Walaupun agak sederhana, tetapi susah untuk menerjemahkan tafsiran menciptakan dokter bertaraf global. Kelak yang lahir dari lembaga mahasiswa adalah dokter yang sudah tuntas dalam hal menaklukkan diri sendiri, terus berproses memahami kompetensinya, serta bisa menafsirkan bangsa Indonesia ke depan. Tentu kesemuanya dibarengi proses dan pola hingga menghasilkan bentuk yang sudah mapan, baik etika maupun moral.

Sejarah memilih para legendanya, memilih kehormatan daripada kebrutalan, sejarah mengingat pertempurannya dan melupakan pertumpahan darahnya. Selamat merenung di jalan sunyi, bertarunglah dengan dirimu sendiri, ketika tuntas bergeraklah, bangsa ini membutuhkanmu.

— — — — —

Biodata Penulis

Nama: William Gunawan

Asal Institusi: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

ID Twitter: @adek_william

ID Line: aliangcurly

Nomor Telpon: 085255576738

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *