Kajian Kesehatan Ibu dan Anak

“Tidak ada seorangpun yang tahu betapa besarnya cintaku padamu, tapi setidaknya hanya kamu di dalam sana yang tahu detak jantungku.” – Anonymous Pregnant Women

Semua yang hidup, pasti melahirkan penerus agar berlanjut kenangannya di dunia. Orang yang melahirkan semua penerus tersebut adalah IBU.

Sudahkah momen kelahiran itu aman untuk ibu dan bayinya?
Sudah amankah bayi tersebut dari penyakit yang mengintai dalam perkembangannya?

Berikut kami haturkan sebuah kisah permasalahan Kesehatan Ibu dan Anak
http://bit.ly/kajianKIA
http://bit.ly/infogramKIA

When you invest in maternal and child health = you invest in everything. Kualitas generasi penerus bangsa dipertaruhkan!

#KesehatanIbuAnak
#HPSWilayah3
#ISMKI4US
#SabangMeraukeK
ajian Kesehatan Ibu dan Anak


Tiga menit sekali satu anak balita meninggal dunia di Indonesia. Tiap satu jam, satu perempuan meninggal dunia akibat melahirkan atau karena sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan. (UNICEF, 2012). Hal tersebut tentulah merupakan hal yang sangat mencengangkan karena persoalan kesehatan adalah merupakan perhatian utama. Upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak sebenarnya tengah dilakukan, namun harus menempuh jalan yang terjal.

Salah satu target Millenium Development Goals (MDGs) adalah peningkatan kesehatan ibu yang difokuskan pada usaha untuk mengurangi kematian ibu. Oleh karena itu, negara berkomitmen untuk mengurangi angka kematian ibu menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Namun sekarang rasio Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi diperkirakan sekitar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Serta mencapai MDG keempat yaitu menurunkan angka kematian anak, dengan target Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 23 per 100.000 kelahiran hidup.

Ketika dashyatnya kebahagiaan berubah menjadi tragedi

Mengapa angka kematian ibu dan anak masih tinggi? Pertanyaan berikut tidak ada habisnya dilayangkan berkaitan dengan terlampau dashyatnya masalah kesehatan yang menjerat kedua subjek yang berkaitan dan keberadaannya selalu memberikan warna kehidupan. Ibu adalah sosok wanita mulia dengan kodrat melahirkan seorang anak, dan tentunya ibu juga sosok yang menyalurkan betapa luas cinta kasihnya sejak anaknya belum tiba di bumi. Kehamilan dan persalinan seyogyanya menjadi peristiwa bahagia yang sangat ditunggu. Akan tetapi, peristiwa bahagia ini seringkali berubah menjadi tragedi.

Tidak ada seorangpun yang tahu betapa besarnya cintaku padamu, tapi setidaknya hanya kamu di dalam sana yang tahu detak jantungku.”

Anonymous Pregnant Women

Menjawab pertanyaan diatas, ternyata kehamilan dan kelahiran tidak pernah selalu aman untuk wanita, karena masih ada beberapa wanita meninggal karena komplikasi kehamilan dini. Jumlah kematian ibu sangat tinggi, setiap harinya di seluruh dunia sekitar 800 wanita meninggal karena komplikasi kehamilan atau persalinan yang terkait seperti kehamilan ektopik, abortus spontan, dan abortus yang diinduksi serta komplikasi kehamilan lanjut seperti gangguan hipertensi, perdarahan dan infeksi. Pada tahun 2013,  di dunia setidaknya terdapat 289.000 wanita meninggal selama kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Hampir semua penyebab kematian ini sebenarnya bisa dicegah. Berikut adalah problematika yang mencetus tingginya angka kematian ibu.

  1. Angka kematian meningkat terkait kemiskinan dan kepadatan pendudukTingginya jumlah kematian ibu di beberapa wilayah di dunia mencerminkan ketidakadilan dalam akses terhadap layanan kesehatan, dan kesenjangan antara kaya dan miskin. Perempuan di daerah terpencil masih sulit untuk menerima pelayanan kesehatan yang memadai. Hal ini terutama berlaku untuk daerah yang jumlah tenaga kesehatan terampilnya masih minim. Selain itu, keterbatasan ekonomi juga berkaitan dengan tidak adekuatnya pemenuhan nutrisi selama kehamilan.
  2. Tingkat kematian ibu terkait terlalu muda saat hamil. Risiko kematian ibu tertinggi untuk remaja perempuan berusia di bawah 15 tahun dan komplikasi pada kehamilan dan persalinan merupakan penyebab utama kematian di kalangan remaja perempuan. Pada tahun 2006 terdapat hampir setengah juta persalinan pada wanita usia 15-19 tahun (CDC, 2009). Kehamilan remaja merupakan suatu situasi kompleks yang pada beberapa kasus menyebabkan terhambatnya akses pelayanan keluarga berencana untuk remaja. Faktor pemacu lainnya adalah keterkaitan hal tersebut dengan prevalensi pendidikan seks di sekolah yang kurang. Walaupun baik, pendidikan tentang seks di sekolah masih dianggap tabu oleh kebanyakan orang karena dianggap sebagai pengenalan awal terhadap seks. Hal ini seharusnya diklarifikasi secepatnya oleh petugas kesehatan untuk menghindari anggapan yang salah tadi dan bisa menurunkan angka kejadian seks di sekolah.
  3. Kurangnya ketaatan untuk datang ke pelayanan kesehatan saat masa kehamilan, dan nifas. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan akan pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan dan setelah persalinan tanpa harus menunggu keluhan terlebih dahulu. Kurangnya kepedulian ibu hamil terhadap perawatan antenatal juga dapat meningkatkan risiko saat dan pasca persalinan. Ketidakpedulian yang sebenarnya bisa dicegah dengan dukungan keluarga untuk memeriksakan kandungannya rutin. Kurangnya ketaatan memeriksakan kehamilan juga berhubungan dengan kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan ibu hamil. Karenanya, saat ada seorang ibu hamil memeriksakan kandungan, petugas kesehatan yang baik bisa memberikan info yang berhubungan dengan pentingnya kunjungan antenatal rutin dan atau sekaligus mendiskusikan solusi bersama-sama terhadap permasalahan ibu hamil dalam kurangnya absen kunjungan antenatal.
  4. Kualitas pelayanan selama kunjungan antenatal kurang memadai. Untuk meningkatkan kesehatan ibu, hambatan yang membatasi akses ke layanan kesehatan yang berkualitas harus diidentifikasi dan ditangani di semua tingkat sistem kesehatan.
  5. Proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga medis dan atau ditangani di fasilitas kesehatan masih rendah. Pada zaman yang modern ini, masih banyak keluarga yang lebih memilih persalinan yang dibantu oleh tenaga tradisional karena berbagai alasan. Salah satunya, biaya lebih murah dan dapat dibayar dengan beras atau barang-barang lain. Beberapa keluarga juga lebih nyaman dengan seseorang yang mereka kenal dan percaya. Mereka yakin bahwa tenaga persalinan tradisional akan lebih mudah ditemukan dan beranggapan bahwa mereka bisa lebih memberikan perawatan pribadi. Dalam kasus-kasus persalinan normal, ini mungkin bisa ditangani. Namun jika ada komplikasi, tenaga persalinan tradisional mungkin tidak akan dapat mengatasi dan mungkin akan segan untuk meminta bantuan bidan desa. Hal ini dapat mengakibatkan penundaan yang membahayakan jiwa karena tidak secepatnya memperoleh perawatan kebidanan darurat di pusat kesehatan atau rumah sakit. Keterlambatan dapat juga terjadi karena kesulitan dan biaya transportasi, khususnya di daerah-daerah yang lebih terpencil. Kenyataannya, perempuan mana pun dapat mengalami komplikasi kehamilan, kaya maupun miskin, di perkotaan atau di perdesaan, tidak peduli apakah sehat atau cukup gizi. Ini artinya kita harus memperlakukan setiap persalinan sebagai satu potensi keadaan darurat yang mungkin memerlukan perhatian di sebuah pusat kesehatan atau rumah sakit, untuk penanganan cepat. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa sekitar separuh dari kematian ibu dapat dicegah oleh bidan terampil, sementara separuhnya lainnya tidak dapat diselamatkan akibat tidak adanya perawatan yang tepat dengan fasilitas medis memadai.
  6. Perempuan meninggal akibat komplikasi selama dan setelah kehamilan dan persalinan.
  • Perdarahan berat. Pendarahan hebat setelah kelahiran dapat membunuh seorang wanita yang sehat dalam beberapa jam jika tanpa pengawasan. Permasalahan yang sering terjadi ialah tidak tersedianya simpanan darah ketika perdaharan terjadi, yang mana lebih sering terjadi saat persalinan tidak ditangani oleh petugas kesehatan di fasilitas kesehatan.
  • Infeksi. Infeksi setelah melahirkan bisa dihilangkan jika kebersihan yang baik diterapkan dan jika tanda-tanda awal infeksi dapat diidentifikasi dan ditangani dengan tepat waktu.
  • Tekanan darah tinggi selama kehamilan. Wanita dengan tekanan darah tinggi selama kehamilan cenderung memiliki komplikasi tertentu yang dapat membahayakan baik bagi ibu maupun janin.
  • Persalinan macet. Untuk menolong hal ini maka diperlukan pertolongan persalinan oleh tenaga medis disertai dengan fasilitas kesehatan yang memadai.
  • Aborsi yang tidak aman. Aborsi masih merupakan fakta yang menyedihkan bahwa banyak kehamilan yang tidak diinginkan diakhiri dengan cara ini. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (2007) “Cara yang paling efektif untuk menurunkan angka aborsi adalah mencegah kehamilan yang tidak diinginkan atau diharapkan.” Sebagian besar perempuan meninggal akibat komplikasi selama kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Sebagian besar komplikasi ini berkembang selama kehamilan. Komplikasi lain mungkin ada sebelum kehamilan tetapi memburuk selama kehamilan. Sisanya berhubungan dengan penyakit seperti malaria, dilaporkan pula bahwa angka kematian ibu selama kehamilan berhubungan dengan peningkatan epidemi HIV-AIDS.

 

Kelahiran seorang anak akan menjadi jawaban kesabaran yang berbulan-bulan ditanggung

Anak adalah anugerah terindah bagi setiap orang tua. Memiliki anak merupakan kebahagiaan karena  kehadirannnya yang menjadi aset berharga, tumpuan harapan di dunia dan akhir masa. Kelahiran anak merupakan jawaban atas penantian orang tua, khususny a sosok ibu dengan kesabaran menanggung penderitaan selama berbulan-bulan ketika mengandung. Kelahiran adalah jawaban indah dari proses perjuangan ibu sehingga jawaban yang tidak diingankan ialah kehilangan, yakni kehilangan aset berharga yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Masalah kesehatan anak lagi-lagi mempunyai cerita tersediri, berikut penjelasan permasalahannya.

  1. Kematian anak banyak terjadi pada masa baru lahir dan bulan pertama kehidupan. Sebagian besar kematian anak di Indonesia saat ini terjadi pada masa baru lahir (neonatal), yakni  bulan pertama kehidupan. Kemungkinan anak meninggal pada usia yang berbeda adalah 19 per seribu selama masa neonatal, 15 per seribu dari usia 2 hingga 11 bulan, dan 10 per seribu dari usia satu sampai lima tahun. Diseluruh dunia, kira-kira 4 juta bayi lahir mati setiap tahunnya dan 4 juta lainnya meninggal dalam 4 minggu pertama kelahiran. Kematian bayi baru lahir kini merupakan hambatan utama dalam menurunkan kematian anak lebih lanjut. Sebagian besar penyebab kematian bayi baru lahir ini dapat ditanggulangi. Seperti di negara-negara berkembang lainnya yang mencapai status pendapatan menengah, kematian anak di Indonesia karena infeksi dan penyakit anak-anak lainnya akan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan pendidikan ibu, kebersihan rumah tangga dan lingkungan, pendapatan dan akses ke pelayanan kesehatan.
  2. Angka kematian meningkat terkait kemiskinan dan kepadatan penduduk. Berkurangnya tingkat kemiskinan akan membuat lingkungan menjadi lebih sejahtera dengan terjaminnya kebutuhan pokok yang menunjang kesehatan. Semakin sejahtera maka semakin mungkin anak-anak bertahan hidup. Oleh karena itu, tidak mengejutkan bahwa angka kematian juga lebih tinggi di provinsi-provinsi termiskin di Indonesia.
  3. Angka kematian berhubungan dengan peningkatan epidemi HIV/AIDS. Indonesia mengalami peningkatan feminisasi epidemi HIV/AIDS. Proporsi perempuan di antara kasus-kasus HIV baru telah meningkat dari 34 persen pada tahun 2008 menjadi 44 persen pada tahun 2011. Akibatnya, Kementerian Kesehatan Indonesia telah memproyeksikan peningkatan infeksi HIV pada anak-anak yang terjadi melalui persalinan dan atau masa antenatal.
  4. Turunnya angka imunisasi. Saat ini imunisasi memang sudah diberikan untuk hampir semua anak-anak di Republik Indonesia walaupun kenyataannya belum merata. Pada tahun 2007, anak-anak yang menerima imunisasi difteri, batuk rejan, dan tipus adalah 84.4%, meskipun hanya separuh dari mereka yang menerima imunisasi lengkap. Selain itu 82% anak-anak menerima imunisasi Tuberkulosis (TBC), dan 80% imunisasi hepatitis. Semua imunisasi tadi seharusnya menjadi satu proses berkesinambungan.  Hal yang mencemaskan adalah turunnya angka imunisasi terhadap polio dan campak Jerman (rubella), yaitu dari sekitar 74% beberapa tahun lalu menjadi 70%. Campak juga menjadi kekhawatiran karena angka imunisasi hanya 72% untuk bayi dan 82% untuk anak hingga 23 bulan, sementara target pemerintah adalah 90%. Diperkirakan 30.000 anak meninggal setiap tahun karena komplikasi campak dan baru-baru ini ada beberapa KLB (kejadian luar biasa) polio dimana 303 anak menjadi lumpuh. Mengapa hanya sedikit anak-anak yang di imunisasi? Imunisasi tidak hanya tergantung pada para orang tua untuk memastikan bahwa anak-anak mereka memperoleh imunisasi, tapi diperlukan sistem kesehatan yang terkelola dengan baik. Telah banyak yang dibelanjakan untuk kesehatan, namun diperlukan lebih banyak anggaran karena saat ini uang belanja negara untuk kesehatan hanya sekitar 5% dari APBN14. Penduduk miskin, khususnya yang tergantung pada layanan publik, akan menderita jika investasi untuk layanan dan tenaga kesehatan kurang memadai

 

Masalah luar biasa perlu taktik yang luar biasa

Strategi khusus untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta menurunkan angka kematian ibu dan anak perlu dicanangkan khusus. Mengingat target yang harus dicapai serta pemenuhan hak-hak dasar seperti kehidupan dan kebahagiaan yang berkaitan erat dengan terjaganya kesehatan. Tentunya ketentraman akan terasa bila hadirnya sosok-sosok yang dicintai. Untuk itu keberlangsungan hidup baik bagi ibu maupun anak harus dijaga dengan baik karena subjek-subjek tersebut adalah paket komplit yang menciptakan harmoni kesejahteraan. Oleh sebab itu perlunya solusi untuk mengkikis problematika yang menghampiri eksistensi ibu dan anak.

Kejadian kematian ibu dan bayi yang terbanyak terjadi pada saat persalinan, pasca persalinan, dan hari-hari pertama kehidupan bayi masih menjadi tragedi luar biasa yang terus menjadi gejolak di negeri ini. Sehingga untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak diperlukan taktik dan inovasi yang luar biasa pula.

Sebagian besar kematian ibu dapat dicegah, pencegahan merupakan solusi kesehatan untuk menangani komplikasi tersering. Semua wanita membutuhkan akses ke perawatan antenatal pada kehamilan, perawatan terampil saat melahirkan, dan perawatan dan dukungan dalam minggu-minggu setelah melahirkan. Hal yang terlebih penting bila semua kelahiran yang dibantu oleh tenaga profesional kesehatan terlatih, manajemen yang tepat waktu, dan pengobatan akan sangat membantu menurunkan angka kematian baik ibu maupun janin. Untuk menghindari kematian ibu, sangat penting untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan terlalu dini.

Karena ibu dan anak merupakan hal yang tak terpisahkan, maka ditawarkan solusi meningkatkan kesehatan ibu dan anak secara utuh dan berkesinambungan meliputi:

  1. Konseling prakonsepsi untuk merencanakan kehamilan, yaitu mengaitkan faktor usia yang terlalu muda atau terlalu tua menjadi resiko terjadinya komplikasi kehamilan sampai dengan kematian, serta merencanakan upaya peningkatan taraf hidup sehat sebelum, sesaat dan setelah kehamilan.
  2. Pada saat masa kehamilan hendaknya taat berkunjung ke dokter atau bidan untuk berkonsultasi maupun memeriksakan kehamilan (antenatal care) minimal empat kali selama kehamilan, edukasi terkait nutrisi ibu hamil dan ditambah dengan 10 T ; Timbang berat badan dan ukur tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, nilai status gizi, pemeriksaan puncak rahim (tinggi fundus uteri), tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan, pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, test laboratorium (rutin dan khusus), Tatalaksana kasus, Temu wicara (konseling) termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan. Hal ini diperlukan untuk antisipasi terjadinya penyulit persalinan, deteksi dini kelainan, dan mencegah terjadinya komplikasi.
  3. Persiapan pertolongan persalinan di tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan yang memadai. Dengan ditolong oleh tenaga kesehatan di pelayanan kesehatan yang memadai akan mudah ditangani bila ada penyulit persalinan seperti perdarahan dan persalinan macet.
  4. Melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan berikan ASI ekslusif sampai bayi usia 6 bulan. ASI adalah makanan yang terbaik untuk menjamin kesehatan dan pertumbuhan bayi.
  5. Penggalakan program Keluarga Berencana (KB), mengetahui jenis-jenis kontasepsi serta mempertimbangkan jenis kontrasepsi mana yang ingin dipakai.
  6. Memberikan imunisasi wajib untuk anak. Skema imunisasi dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, yakni Program Pengembangan Imunisasi (PPI). Imunisasi PPI ini disebut imunisasi wajib, yang terdiri dari vaksin BCG, polio tetes minum (polio oral), DPT, hepatitis B dan campak. Imunisasi wajib ini disubsidi oleh pemerintah Indonesia.
  7. Mengukur serta mengevaluasi pertumbuhan secara rutin. Mencangkup tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala. Hal ini untuk mengevalusi pertumbuhan normal pada anak.
  8. Evaluasi perkembangan dengan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Untuk mengetahui indikator perkembangan mencangkup bahasa, perilaku sosial, motorik kasar dan motorik halus.
  9. Beri nutrisi pada anak sesuai usia. Nutrisi yang baik disertai stimulasi akan berpengaruh pada masa golden age anak. Dimana masa ini berlangsung sampai usia anak dua tahun. Sel-sel otak memang tak dapat bertambah lagi setelah lahir, namun akan terus berkembang saat mencapai usia dua tahun dan berat otak si kecil telah mencapai 75% berat otak dewasa dan pertumbuhan otaknya telah mencapai 90%. Perkembangan pesat ini terjadi sangat singkat dan hanya terjadi sekali seumur hidupnya. Nutrisi yang baik juga diperlukan untuk mencegah terjadinya gizi kurang dan gizi buruk.

 

Tawaran inovatif untuk pemerintah tercinta

Pemerintah pusat dan daerah perlu mengembangkan upaya yang memiliki daya ungkit tinggi dalam penurunan kematian ibu dan bayi baru lahir. Pemerintah harus fokus pada penyebab utama kematian, yakni dengan prioritas baik daerah yang memiliki kasus kematian tinggi pada ibu dan bayi baru lahir serta pada daerah yang sulit akses pelayanan kesehatan. Saat ini, berbagai upaya memang tengah dilakukan oleh pemerintah, namun kami menawarkan solusi inovatif untuk menerangjelaskan poin yang perlu dibenahi kembali secara optimal.

  1. Pemerintah hendaknya lebih gencar mencapai dan menyediakan akses kesehatan reproduksi
  2. Selanjutnya, pemerintah tetap konsisten melakukan upaya meningkatkan proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga persalinan terlatih, baik staf rumah sakit, pusat kesehatan ataupun bidan desa. Tentunya dengan diimbangi peningkatan serta pemerataan pelayanan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang kompeten.
  3. Diperlukan lebih banyak anggaran untuk dituangkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, karena saat ini anggaran belanja negara untuk kesehatan hanya sekitar 5% dari APBN14. Kini, cukup tinggi ketergantungan pada pemerintah kapubaten yang mengalokasikan 4-11% anggaran untuk kesehatan. Sekitar 80% dari anggaran tersebut digunakan untuk membayar gaji pekerja medis. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan bahwa proporsi gaji seharusnya hanya 15%. Jadi, diperlukan dana yang lebih banyak? Dana memang membantu. Bukan hanya untuk upaya penyembuhan, namun juga pencegahan penyakit. Kematian anak bukan terjadi hanya pada tahun pertama, namun juga cukup banyak terjadi pada minggu atau bahkan hari-hari pertama kehidupan mereka. Artinya kita harus memperbaiki kualitas layanan kesehatan ibu dan anak, khususnya sepanjang kehamilan dan segera setelah persalinan.
  4. Pemerintah hendaknya menggiatkan sosialisasi terkait pentingnya antenatal care, pertolongan persalinan oleh layanan medis, pentingnya pemberian imunisasi serta evalusi tumbuh dan kembang anak.

Kesimpulan

Ibu dan anak tergolong dalam “vulnerable group” (golongan terancam bahaya) yang harus diselamatkan

Angka kematian ibu dan anak yang masih tinggi merupakan kondisi yang memprihatinkan. Diperlukannya upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak dengan menjaga kesehatan ibu selama kehamilan, saat persalinan maupun pasca persalinan. Meningkatkan derajat kesehatan anak dengan pemantauan pertumbuhan mencangkup asupan gizi sedini mungkin dan berbagai penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi dasar sehingga diharapkan anak dapat tumbuh dan berkembang secara normal.

Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu isu krusial dalam pencapaian pembangunan di seluruh dunia. Pelayanan kesehatan ibu dan anak tidak hanya sensitif mencerminkan pembangunan suatu negara, tetapi juga sebagai investasi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang. Ibu dan anak yang sehat adalah penting untuk mencapai generasi sehat dan bangsa yang kuat.

When you invest in maternal and child health = you invest  in everything

 

Let’s step up!

Saving the lives of mother and children

 

Samarinda, 17 April 2015

Salam perubahan penuh cinta

Health Policy Studies – ISMKI Wilayah III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Threesome