Interprofessional Education (IPE) Development: Empowering Young Generation

Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia

Generasi muda adalah generasi yang mampu mengguncang dunia yang dalam hal ini artinya adalah mengubah dunia menjadi lebih baik. Seperti yang sudah kita ketahui, mahasiswa adalah ujung tombak perubahan dunia alias agent of change. Untuk mengubah dunia, khususnya Indonesia ke dalam hal yang lebih baik, tentunya kita tidak bisa bekerja sendiri. Ada banyak sektor yang harus bekerjasama untuk mewujudkan satu visi yang sama secara komprehensif. Dalam hal kesehatan, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin bagi kita untuk saling bekerjasama antarprofesi untuk mewujudkan visi Indonesia Sehat. Kunci dari keberhasilan mewujudkan misi Indonesia Sehat adalah  “Interprofessional Collaboration”.

Interprofessional adalah kumpulan individu dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda yang saling bekerjasama dan berkomunikasi dengan individu lainnya. Dalam praktiknya, interprofessional dapat memberikan setiap individu ilmu pengetahuan, kemampuan, dan cara berperilaku yang benar terhadap individu dari disiplin lain sehingga dapat membantu dan saling mendukung satu sama lain. Interprofesionalitas berkembang terintegrasi seiring dengan kebutuhan populasi  saat ini yang menginginkan pelayanan kesehatan yang optimum dan komprehensif.

Ilmu interprofesionalitas perlu diajarkan pada para pelaku kesehatan untuk mencapai pelayanan yang optimum dan komprehensif. Hal ini juga dilakukan untuk mengurangi prasangka buruk antardisiplin ilmu. Ada tiga kondisi yang dapat mengurangi prasangka dalam dunia medis, yakni kesetaraan status diantara kelompok disiplin ilmu, kesamaan tujuan ketika bekerja bersama, dan kekooperatifan saat bekerja bersama di lapangan.

Sebagai pelaku kesehatan yang menjalankan prinsip interprofesionalitas, tentunya ada kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai. Kompeensi-kompetensi tersebut adalah common competencies (kompetensi umum), individual professional competencies (kompetensi profesional individu), dan interprofessional collaborative competencies (kompetensi kolaboratif interprofesional). Kompetensi umum yang harus dimiliki oleh seluruh profesi antara lain adalah biomedik dasar, etika, hukum, komunikasi kesehatan, metodologi penelitian kesehatan, dan pengelolaan bencana. Kompetensi individu profesional bagi mahasiswa kedokteran sudah tercantum dalam SKDI (Standaard Kompetensi Dokter Indonesia) yang nantinya akan diuji melalui suatu sistem ujian bernama UKDI baik CBT maupun OSCE. Sementara itu, kompetensi kolaboratif interprofesional jarang untuk bisa didapatkan melalui bangku perkuliahan. Salah satu universitas di Indonesia, yakni Universitas Indonesia menerapkan pelajaran mengenai interprofesionalitas melalui modul “Kolaborasi dan Kerjasama Tim Kesehatan”. Program ini terbagi menjadi dua bagian, yakni tahap awal (preklinik) dan tahap kedua (klinik). Tujuan Universitas Indonesia membuat modul ini adalah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dengan pendekatan interprofesional. Pada tahap preklinik, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis kolaborasi seperti bakti sosial, penyuluhan, dan lain sebagainya. Sementara itu, pada tahap klinik, mahasiswa akan turun ke lapangan (Pusksmas dan daerah-daerah binaan) untuk mendiskusikan masalah dan praktik klinik dalam sebuah tim interprofesi.

Setiap sesuatu pasti ada halangan dan rintangan yang harus dihadapi. Dalam hal ini, para pelaku kesehatan harus melihat hal ini sebagai suatu tantangan baru yang harus dihadapi guna mencapai tujuan yang sama. Beberapa tantangan tersebut antara lain adalah peraturan akademik, role model yang tersedia di lapangan, perbedaan latar belakang (budaya, sosial, etnik, dan lain sebagainya), komitmen institusi untuk menjalankan program, sumber daya manusia, kurikulum, kemampuan tenaga pengajar, kemauan individu untuk melibatkan diri, dan masih banyak lagi. Lantas, bagaimana peran individu mahasiswa dan profesional muda dalam menghadapi hal ini?

  • Sadar terhadap berbagai tantangan yang ada.
  • Hilangkan semua stereotype mulai dari diri sendiri (tidak ada peran yang dominan dan sistem inferion-superior).
  • Siapkan diri masing-masing: bangun motivasi, semangat saling menghargai, dan saling membutuhkan.
  • Melakukan kolaborasi kemahasiswaan apabila masih mahasiswa.
  • Menjadi pelaku kesehatan yang bekerja secara interprofesional apabila sudah ada di fase klinik.

 

 

ISMKI 2015

#SabangMerauke

Threesome