Hari Tanpa Tembakau Sedunia: FCTC untuk Negeriku

David Goerlitz, bintang iklan rokok produksi RJ Reynolds (produsen rokok besar di Amerika) pernah bertanya kepada seorang eksekutif di perusahaan tersebut

“Mengapa para karyawan di perusahaan tersebut tidak merokok?”

Dan jawabannya adalah sebagai berikut “Kami tidak mengisap barang hina itu. Kami hanya mempunyai hak untuk menjualnya kepada para pemuda, orang miskin, orang berkulit hitam, dan orang bodoh!”

Apakah Anda salah satu sasaran mereka?

Sasaran sang Industri Rokok

Tembakau. Tak asing bagi rakyat Indonesia mendengar kata tembakau maupun produk olahannya yang sangat merajalela di pasaran yaitu, ROKOK. Produk hisap yang mengandung sekitar 4.000 bahan kimia, ratusan bahan racun, serta 70 bahan penyebab kanker ini sangat adiktif. Dimana zat adiktif dapat menimbulkan ketergantungan bagi pemakainya. Tak hanya itu. Bahan kimia yang “katanya” berbahaya ini memang benar memiliki dampak negatif terhadap kesehatan tubuh, bukan hanya kesehatan sang empunya, namun juga kerabat lain yang menghirup asap rokok tersebut.

Ironisnya, konsumen setia produk rokok yang dahulu sebatas dewasa muda hingga dewasa, kini mulai bergeser ke anak – anak bahkan balita. Kita tengok pada fenomena nasional seperti anak berusia 8 tahun di Sukabumi yang dilaporkan mampu menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari. Juga fenomena baby smoker Aldi Rizal asal Sumatera Selatan yang menjadi isu internasional dan sensasi di YouTube.

Menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2009, 20,3% anak sekolah usia 13-15 tahun telah menjadi perokok aktif. Itu berarti 1 dari 5 anak SMP di Indonesia telah kecanduan rokok. Di samping itu, anak usia 13-15 tahun yang menjadi perokok pasif akibat paparan dari lingkungan sekitarnya jauh lebih banyak jumlahnya. Sebanyak 68,8% anak usia 13-15 tahun terpapar asap rokok di rumah, sedangkan 78,15% terpapar asap rokok di luar rumah. Semakin dini seorang anak terpapar oleh asap rokok, semakin mudah mereka untuk adiksi saat mulai merokok. Masa depan generasi penerus bangsa akan menjadi semakin buram ditutupi oleh asap rokok yang mengepul di sekitarnya. Hal ini dikarenakan paparan asap rokok atau bahkan merokok dapat menghambat perkembangan paru sang anak. Selain itu, anak akan lebih rawan terhadap penyakit seperti kanker, stroke, serangan jantung, dan lain – lain.

Mengapa konsumen rokok berusia muda semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun? Industri rokok kehilangan pelanggan setia tiap harinya karena sakit atau meninggal dunia. Oleh karena itu, industri rokok harus merekrut perokok pengganti agar bisnisnya terus berjalan dan memberikan keuntungan yang melimpah ruah. Dokumen internal perusahan rokok menyatakan bahwa anak muda merupakan satu – satunya sumber perokok pengganti. Jika anak muda tidak merokok maka industri akan bangkrut layaknya masyarakat yang tidak melahirkan generasi penerusnya. Industri rokok bahkan rela meronggoh kocek hingga 11,9 triliun rupiah untuk iklan, promosi, dan sponsor rokok agar mendapatkan perokok pengganti. Hingga hasilnya, per tahun 2010, industry rokok berhasil merekrut 3,96 juta perokok usia 10-14 tahun. Atau dengan kata lain, ada 10.869 perokok pengganti tiap harinya.

Dimanakah Indonesia ketika generasi penerus bangsanya menjadi sasaran empuk para industri rokok? Indonesia seolah tidak serius dalam melindungi bangsanya dari jeratan permainan stratregi industri rokok. Budaya merokok yang semakin mengakar di masyarakat membuat negeri ini tampak seperti gudang jelaga. Sampai kapan rakyat khususnya anak muda menjadi korban keserakahan sang penguasa dan pengusaha?

Indonesia dan FCTC

Indonesia sebagai negara dengan penduduk mencapai 250 juta jiwa, merupakan sasaran empuk para industri rokok. Perusahaan rokok asing yang ditolak negara lain, dengan bebas merdeka menjual, membuat dan membeli pabrik rokok, bahkan dengan arogan mematok target memperoleh 3 juta perokok pemula di Indonesia tiap tahunnya. Hingga hasilnya, lebih dari 50% dari semua perokok hidup di 5 negara yaitu Brazil, India, China, Russia, dan INDONESIA.

Tingginya angka perokok tersebut diikuti dengan meningkatnya angka kesakitan maupun kematian akibat rokok. Hal ini tentunya menggerogoti APBN dengan lahapnya. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Prof. Tjandra Yoga Aditama dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) di Komnas HAM tahun 2013 lalu, menyebutkan bahwa konsumsi rokok menyebabkan pengeluaran tak perlu tiap tahunnya mencapai Rp 245,41 triliun. Bila dirinci, pengeluaran tak perlu sebesar itu antara lain untuk memenuhi beberapa keperluan seperti pembelian rokok itu sendiri (Rp 138 triliun), biaya perawatan medis rawat inap dan rawat jalan (Rp 2,11 triliun), serta kehilangan produktivitas akibat kematian prematur dan morbiditas maupun disabilitas(Rp 105,3 triliun). Pengeluaran tersebut tentunya jauh lebih besar dibandingkan pendapatan negara dari cukai (tahun 2012) yang hanya mencapai Rp 55 triliun. Dari perhitungan tersebut, didapatkan bahwa kerugian akibat konsumsi rokok mencapai Rp 190,41 triliun!

Pemasukan yang diterima negara dari industri rokok (pajak dan lain sebagainya) mungkin saja berjumlah besar, tapi kerugian langsung dan tidak langsung yang disebabkan konsumsi rokok jauh lebih besar. Biaya tinggi harus dikeluarkan untuk membayar biaya penyembuhan penyakit yang disebabkan oleh rokok, absen dari bekerja, hilangnya produktifitas dan pemasukan, kematian prematur, dan juga membuat orang yang miskin semakin kekurangan karena mereka menghabiskan uangnya untuk membeli rokok.

Ketimpangan ini akan semakin terasa setelah tahun 2014, karena pada tahun ini undang-undang Badan Pengelola Jaminan Sosial sudah disahkan, sehingga seluruh biaya asuransi kesehatan masyarakatakan ditanggung oleh pemerintah. Ditambah lagi dengan ledakan jumlah merk luar negeri yang masuk Indonesia, maka kita harus bersiap mengeluarkan uang lebih tanpa penerimaan. Mengapa begitu? Dengan ditandatanganinya Free Trade Agreement, maka produk tembakau tersebut bisa masuk bebas ke negara kita tanpa pajak masuk, hanya dikenakan PPn. Wajar jika Indonesia diserbu puluhan merk rokok luar negeri akhir-akhir ini. Pelaku industri itu melihat peluang yang bagus. Pasar besar, pajak kecil. Bisa dibayangkan, berapa juta orang yang harus terkapar karena rokok, baik itu yang aktif maupun yang pasif.

Dalam naskah Framework Convention for Tobacco Control (Pasal 6) menghimbau negara-negara peserta  untuk  menaikkan  pajak  tembakau, mempertimbangkan  tujuan kesehatan masyarakat dalam  menetapkan kebijakan  cukai  dan harga produk  tembakau,  serta pelarangan penjualan tembakau bebas bea.

Kenaikan cukai progresif tembakau sebagai salah satu instrumen ketentuan pokok FCTC telah terbukti mampu mengurangi konsumsi atau permintaan terhadap produk tembakau. Terlihat dari  laporan Pengendalian Tembakau 2003 oleh  Bank Dunia, penelitian membuktikan bahwa kenaikan harga produk tembakau  sebesar 10% akan  menurunkan tingkat permintaan global  sebesar  rata-rata  4%  –  8%  dan  dapat  mencegah  sedikitnya  10  juta kematian.

Dari situ telah terlihat bahwa kenaikan cukai progresif akan memberikan dampak positif, yaitu mengurangi tingkat konsumsi tembakau dan produknya, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah serta di kalangan anak dan remaja. Selain itu, juga menambah penerimaan negara.

Namun juga ada dampak negatif yang mengiringi. Dampak tersebut bermula saat permintaan rokok menurun sehingga menyebabkan industri rokok harus mengurangi produksi rokoknya agar tidak bangkrut. Hal tersebut berakibat adanya pemutusan hubungan kerja industri serta penurunan pendapatan usaha tani.

Namun ternyata dampak tersebut tidaklah begitu besar seperti yang dikhawatirkan pemerintah. Hal ini dapat dilihat pada data – data yang didapat tentang analisis ekonomi tembakau di Indonesia. Jumlah petani tembakau sekitar 900.000 orang yang merupakan 2,3% dari pekerja sektor pertanian atau 1% dari pekerja sektor formal. Selain itu penanaman tembakau mayoritas bersifat musiman dan terkonsentrasi pada wilayah atau daerah tertentu. Luas lahan untuk  menanam tembakau kurang dari 1% lahan pertanian musiman yang 96%nya terletak di propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan NTB. Kontribusi industri rokok terhadap total tenaga kerja sektor industri terus menurun secara tajam dari 28% pada era 1970-an menjadi kurang dari 6% saat ini. Hal ini disebabkan oleh mekanisasi produksi rokok di Indonesia pada tahun 1970-an.

Lalu dilihat dari sisi petani, harga jual tembakau lokal dari petani ditentukan oleh tengkulak. Para tengkulak umumnya menentukan harga menurut kualitas yang mereka buat sendiri. Sehingga harga menjadi fluktuatif dan penghasilan petani tembakau menjadi tak pasti. Padahal harga rokok di pasaran tetap saja tidak fluktuatif. Sayangnya lagi, harga di tingkat petani tersebut jauh di bawah jumlah yang dibayarkan pabrik rokok kepada tengkulak. Jadi apabila alasan pemerintah tidak mengaksesi maupun meratifikasi FCTC karena takut kesejahteraan petani terancam, sungguhlah tidak sesuai. Selain itu, berkurangnya pekerjaan di tingkat petani tembakau dalam hitungan dekade, bukan semalam. Oleh karenanya pemerintah akan mempunyai banyak kesempatan untuk merencanakan peralihan yang berkesinambungan dan teratur.

Pertanyaan besar yang patut untuk ditanyakan saat ini adalah: Mengapa pemerintah Indonesia belum mau mengaksesi maupun meratifikasi FCTC? Padahal sudah terlihat jelas bahwa Indonesia mengalami kerugian besar diakibatkan oleh rokok. Masih nyamankah Indonesia tunduk di bawah ketiak industri rokok yang merajalela?

Harapan untuk Negeriku, Indonesia

“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” Ucap Bapak Soekarno dalam salah satu pidatonya. Masyarakat yang sehat merupakan idaman setiap negara. Kepentingan khalayak banyak tersebut seharusnya tak dapat dikalahkan oleh keserakahan penguasa dan pengusaha negeri ini. Sudah saatnya Indonesia membuka mata dan melepaskan diri dari belenggu kepulan asap rokok.

Demi negeriku, akan kuperjuangkan keadulatannya

Karena Indonesia merdeka

Ayo #DukungFCTC

Semarang, 31 Mei 2015

Salam Cinta dan Penuh Perubahan

Health Policy Studies – ISMKI Wilayah 3

Leave a Reply