Hari Thalasssemia Sedunia diperingati setiap tanggal 8 Mei. Tema peringatan tahun ini, yakni “Universal Access to Quality Thalassaemia Healthcare Services: Building Bridges with and for Patients” atau memberikan penekanan bahwa hak-hak penyandang thalassemia merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh negara, masyarakat pada umumnya, dan pemberi pelayanan kesehatan. Diharapkan pelayanan bagi pasien thalassemia di Rumah Sakit bisa lebih baik.

Menurut Riskesdas 2007, 8 provinsi dengan prevalensi lebih tinggi dari prevalensi nasional, antara lain Provinsi Aceh (13,4‰), DKI Jakarta (12,3‰), Sumatera Selatan (5,4‰), Gorontalo (3,1‰), Kepulauan Riau (3,0‰), Nusa Tenggara Barat (2,6‰), Maluku (1,9‰), dan Papua Barat (2,2‰). Berdasarkan data YTI dan POPTI tahun 2014, dari hasil skrining pada masyarakat umum dari tahun 2008 – 2017, didapatkan pembawa sifat sebanyak 699 orang (5,8%) dari 12.038 orang yang diperiksa; sedangkan hasil skrining pada keluarga Thalassemia (ring 1) tahun 2009-2017 didapatkan sebanyak 1.184 orang (28,61%) dari 4.137 orang. Sedangkan berdasarkan data RSCM, sampai dengan bulan Oktober 2016 terdapat 9.131 pasien thalassemia yang terdaftar di seluruh Indonesia.

Pembiayaan kesehatan untuk tatalaksana thalassemia menempati posisi ke 5 diantara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke sebesar 217 milyar rupiah di tahun 2014 menjadi 444 milyar rupiah di tahun 2015 menjadi 485 milyar rupiah di tahun 2016 dan menjadi 376 milyar rupiah sampai dengan bulan September 2017. Penyakit thalassemia termasuk dalam beban biaya rawat inap tertinggi dalam Penyakit Tidak Menular. Jumlah kunjungan pasien Thalasssemia hingga September 2017 mencapai 420.393 orang.

Penyakit Thalassemia belum bisa disembuhkan dan harus transfusi darah seumur hidup, tetapi dapat dicegah dengan mencegah pernikahan sesama pembawa sifat Thalassemia. Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mengetahui status seseorang apakah dia pembawa sifat atau tidak, karena pembawa sifat Thalassemia sama sekali tidak bergejala dan dapat beraktivitas selayaknya orang sehat. Idealnya dilakukan sebelum memiliki keturunan yaitu dengan mengetahui riwayat keluarga dengan thalassemia dan memeriksakan darah untuk mengetahui adanya pembawa sifat thalassemia sedini mungkin. Sehingga pernikahan antar sesama pembawa sifat dapat dihindari.

Sumber: kemkes.go.id

#ISMKINYATA

Menjadikan ISMKI Tindak Berbuat Nyata

www.ismki.org | @ISMKI_Indonesia

Categories: Hari Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *