Pada 1993, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa menetapkan 3 Mei sebagai hari untuk memeringati prinsip dasar kemerdekaan pers, demi mengukur kebebasan pers di seluruh Internasional. Sejak itu, 3 Mei diperingati demi memertahankan kebebasan media dari serangan atas independensi dan memberikan penghormatan kepada para jurnalis yang meninggal dalam menjalankan profesinya.

3 Mei menjadi hari untuk mendorong inisiatif publik untuk turut memerjuangkan kemerdekaan pers. Hari Kebebasan Pers Sedunia juga menjadi momentum untuk mengingatkan pemerintah untuk menghormati komitmennya terhadap kemerdekaan pers. World Press Freedom Day 2019 mengusung tema “Media for Democracy, Journalism and Elections in Times of Disinformation”

Sepanjang tahun 2015, angka kekerasan terhadap jurnalis meningkat. Ada 44 kasus kekerasan terhadap jurnalis di tahun 2015, meningkat dibanding tahun 2014 yang mencapai 40 kejadian. Namun satu yang perlu dicatat, angka polisi sebagai pelaku kekerasan berlipat dua, dari sebelumnya hanya enam kasus, kini tercatat ada 14 kejadian di mana pelaku kekerasan adalah polisi.

Kemerdekaan pers pada hakikatnya bukanlah hak eksklusif dari komunitas pers semata. Kemerdekaan pers adalah hak konstitusional yang berakar kepada jaminan hak setiap warga negara untuk memperoleh informasi. Setiap kasus kekerasan terhadap jurnalis bukan semata-mata menghalangi kerja jurnalis untuk memperoleh berita. Setiap kasus kekerasan terhadap jurnalis adalah pelanggaran hak konstitusional warga negara untuk memperoleh informasi yang sedang diliput atau dipublikasikan jurnalis.

Sumber: http://wpfd.aji.or.id

#ISMKINYATA

Menjadikan ISMKI Tindak Berbuat Nyata
www.ismki.org | @ISMKI_Indonesia

Categories: Hari Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *