oleh Departemen Kajian Strategis BEM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di beberapa wilayah di Indonesia masih menjadi topik hangat hingga detik ini. Kebakaran hutan di Indonesia tahun ini diyakini akan mencatat rekor sebagai yang terparah sepanjang sejarah.  Badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB) menyebutkan total lahan yang terbakar di Sumatera mencapai 1,7 juta hektar dengan titik api sekitar 1800 pada Minggu (25/10).

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di sekitar Sumatera Selatan dan Kalimantan sudah dalam kondisi mengkhawatirkan dan merugikan. Bahkan, wilayah yang terkena kabut asap semakin luas yang terkena dampaknya dan kerugian di berbagai sektor juga semakin betambah. Peneliti Central for International Forestry Research (CIFOR) Herry Purnomo memperkirakan jumlah kerugian ekonomi akan lebih besar karena bencana kebakaran hutan masih terus terjadi di enam provinsi dan bahkan menyebar ke Papua dan Sulawesi. Bukan hanya perekonomian yang dirugikan, kesehatan masyarakat Indonesia juga telah dirugikan. Kabut asap telah membawa dampak buruk bagi kondisi kesehatan masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di kawasan kebakaran hutan (Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi).

Dinas Kesehatan Riau menyebutkan, hingga kini, sebanyak 9.386 orang terjangkit penyakit akibat paparan asap. Adapun jumlah pasien penderita saluran pernapasan atas (ISPA) sebanyak 7.312 orang, asma 296 orang, pneumonia 290 orang, iritasi mata 485 orang, dan iritasi kulit 903 orang. Angka kejadian ISPA di Sumatra Barat relatif lebih sedikit dibandungkan Riau dan mengalami peningkatan menembus angka 3.220 sampai 6.009 kasus berdasarkan data dari DInas Kesehatan Sumatera Barat.

Kabut asap yang disebabkan karena kebakaran hutan membawa berbagai bahan polutan yang berbahaya. Polutan-polutan tersebut antara lain adalah particulate matter (PM) atau kandungan partikel dalam udara, karbon monoksida (CO), nitrogen dioksia (NO2), sulfur dioksida (SO2), dan ozone (O3). Dalam hasil Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Riau sampai Sumatera Barat beberapa waktu lalu, kandungan partikel dalam udara yang berdiameter lebih dari 10 mikrometer (PM 10) sudah melebihi angka 101 Psi. Hasil ini menandakan udara di kawasan tersebut sudah masuk pada kategori tidak sehat dan menjadi berbahaya jika mencapai angka 199 Psi.

Kandungan partikel debu berlebih yang terdapat dalam udara dapat menyebabkan gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia. Selain partikel debu, kabut asap juga membawa partikel lain yang lebih halus dan dapat tetap masuk ke dalam saluran pernapasan walaupun sudah menggunakan masker. Kabut asap juga membawa berbagai senyawa berbahaya bagi tubuh manusia. Senyawa berbahaya ini dapat memicu terjadinya penyakit kanker, seperti kanker paru-paru. Lebih lanjut dalam jangka panjang, zat-zat berbahaya ini juga dapat meyebabkan terjadinya retardasi mental pada anak-anak. Hal ini dikarenakan zat-zat berbahaya ini dapat menghambat suplai oksigen ke otak. Akibatnya, kinerja otak berada di bawah batas normal. Kondisi ini sangat rentan terjadi pada bayi dan anak-anak, serta pada janin yang masih berada dalam kandungan. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kabut asap ini berlangsung terus menerus, Indonesia akan melahirkan generasi yang keterbelakangan mental.

Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama , Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa ada beberapa gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat terpapar kabut asap, yaitu iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, reaksi alergi, peradangan dan juga infeksi. Hal inilah yang dianggap berbahaya oleh Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K).

“Secara umum kabut asap dapat mengganggu kesehatan semua orang, baik yang dalam kondisi sehat maupun sakit. Pada kondisi kesehatan tertentu, orang akan menjadi lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap dibandingkan orang lain, khususnya pada orang dengan gangguan paru dan jantung, lansia, dan anak-anak,” kata Tjandra.

Tjandra menjelaskan ada beberapa jenis gangguan kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan.  Berikut di antaranya;

  • Iritasi lokal pada selaput lendir dengan manifestasi klinis berupa reaksi alergi, peradangan, dan infeksi.
  • Keluhan gatal pada kulit.
  • Menjadi faktor pemberat penyakit paru kronis seperti asthma dan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) dengan manifestasi klinis sulit bernapas.
  • Sistem imun lokal pada saluran pernapasan berkurang sehingga infeksi mudah terjadi terutama ISPA.
  • Gangguan saluran pencernaan akibat tercemarnya air oleh asap yang dikonsumsi warga.
  • Memperberast penyakit jantng, hati, ginjal, dan lain sebagainya baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Pemerintah pusat memang sudah melakukan beberapa upaya untuk menghentikan kabut asap. Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga sudah mengunjungi kawasan hutan yang terbakar di Kalimantan dan sempat berjalan-jalan di tengah hutan yang sedang terbakar. Jokowi juga sudah mengunjungi Jambi, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat untuk memantau penanganan asap. Akan tetapi, langkah pemerintah ini masih kurang maksimal karena hingga saat ini bencana asap masih belum bisa diatasi. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain adalah membuat hujan buatan dan juga menyiapkan kapal perang Republik Indonesia untuk mengevakuasi korban asap apabila diperlukan.  Dalam bidang kesehatan, pemerintah pusat maupun daerah telah mengerahkan tim kesehatan ke daerah-daerah yang terindikasi gawat.

Kementerian Kesehatan menurunkan langsung Tim Gawat Darurat Bencana Asap bagi provinsi yang terkena imbas kabut asap terparah, termasuk Sumatra Selatan. Dinas Kesehatan setempat juga telah mengerahkan tim medis untuk menjemput bola, turun langsung tanpa menunggu korban semakin banyak. Lesty Nurayni, Kepala Dinas Kesehatan Sumatra Selatan , mengatakan pihaknya sudah tergabung dalam tim medis bersama Kemenkes untuk terjun langsung ke daerah bencana kabut asap dan mencari masyarakat yang terganggu kesehatannya.

Sayang sekali, upaya pemerintah itu terkesan masih kurang maksimal. Upaya pemadaman kebakaran hutan masih jauh dari harapan masyarakat karena kenyataannya titik api malah semakin bertambah dan sekarang bukan hanya di Sumatera dan Kalimantan saja yang dilingkupi asap, pulau-pulau lain kini juga dilingkupi asap. Bukan hanya itu, upaya pemerintah dalam bidang kesehatan juga masih jauh dari harapan, buktinya jumlah korban infeksi akibat kabut asap semakin bertambah dari hari ke hari. Korban yang terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga akhir September lalu jumlahnya 272.001 orang. Kenaikan kasus ISPA per minggu sudah berkisar angka 500 orang.

Menunggu pemerintah untuk turun tangan menghentikan kabut asap sehingga tidak akan ada lagi korban akibat kabut asap atau menunggu pemerintah untuk menanggulangi masalah kesehatan kita bukanlah keputusan yang baik. Menggantungkan nasib sepenuhnya kepada pemerintah juga bukanlah pilihan terbaik. Kita perlu bergerak dan peduli dengan kesehatan kita sendiri karena sejatinya, kondisi kesehatan itu juga dipengaruhi oleh pribadi masing-masing.

Terkait dengan ancaman kesehatan akibat kabut asap itu, ada beberapa upaya yang sebenarnya dapat mengurangi bahaya asap terhadap kesehatan, diantaranya adalah;

  1. Kurangi aktifitas di luar rumah. Mengurangi aktifitas di luar Rumah terutama bagi mereka yang rentan seperti usia lanjut, anak-anak, bayi, Ibu hamil, dan penderita penyakit kronis seperti kelainan jantung dan paru.
  2. Gunakanlah masker atau saputangan. Sebaiknya masker dan saputangan dibasahi sesering mungkin meskipun masker dan saputangan tidak menjamin perlindungan yang sempurna.
  3. Hidupkanlah AC di dalam rumah dan janganlah menambah sumber asap.
  4. Usahakan tidak ke luar rumah.
  5. Konsumsilah nutrisi yang baik. Nutrisi yang baik dan daya tahan tubuh yang kuat menentukan respon tubuh terhadap pengaruh lingkungan yang tidak baik.
  6. Istirahatlah yang cukup
  7. Minumlah yang banyak karena air dapat mengencerkan dahak sehingga lebih mudah dikeluarkan.
  8. Terapkanlah Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), seperti makan bergizi, jangan merokok, istirahat yg cukup, dan lainnya. Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah, sekolah, kantor, dan ruang tertutup lainnya Penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik
  9. Cucilah buah-buahan sebelum dikonsumsi.

Semoga bencana kabut asap ini cepat terselesaikan dan tidak akan kita temukan lagi di masa-masa mendatang.

Warm Regards,

ISMKI 2015

#SabangMerauke

Categories: