Rencana Menjadi seorang Spesialis

Memilih menjadi spesialis

Pengalaman di sekolah kedokteran bukanlah sekedar mengingat-ingat nama artheri, nama otot, tulang, atau belajar memegang stetoskop. Setiap mahasiswa kedokteran harus melalui fase-fase dimana mereka harus ujian, tidur larut malam, berorganisasi, dan lain sebagainya hingga pada saat mereka lulus mereka akan dihadapkan pada pertanyaan menantang. Setelah ini mau jadi apa? Menjadi dokter umum biasa atau spesialis? Mau jadi spesialis apa? Lalu selanjutnya mau ambil sub spesialis apa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu saja memiliki banyak jawaban. Permasalahannya, dari semua jawaban yang ada, jawaban mana yang paling cocok?

Mengapa sulit?

  1. Terlalu banyak pilihan
  2. Waktu paparan terhadap dunia kedokteran spesialis yang terbatas saat ko-ass
  3. Kurang pengalaman pada saat ko-ass karena lebih sering menjadi pengamat
  4. Tidak semua spesialis kedokteran dipaparkan pada saat ko-ass karena masalah waktu
  5. Perencanaan karir spesialis kedokteran yang minim

Salah mengambil spesialis?

Memilih spesialis itu bukanlah seperti membeli kucing dalam karung. Kebanyakan mahasiswa Kedokteran mengambil keputusan untuk memilih satu dari banyaknya spesialis kedokteran tanpa pikir panjang. Mereka merasa cukup dengan pengalaman ko-ass. Akan tetapi, pengalaman ko-ass tidaklah cukup untuk mengetahui apakah spesialis yang kita pilih sudah sesuai dengan keninginan kita. Spesialis yang kita pilih haruslah spesialis yang menurut kita cocok dengan kita, menyenangkan untuk kita, dan kita tidak merasa terbebani dengan hal tersebut.

Spesialis Kedokteran

Spesialis Kedokteran versus kedokteran umum

Status sosial yang tinggi dan bayaran yang mahal menarik minat para lulusan kedokteran untuk berkarir di bidang spesialis dibanding hanya menjadi dokter umum biasa. Penggunaan alat-alat yang mahal serta serangkaian prosedur yang rumit akan menambah pundi-pundi keuangan para dokter. Selain itu, untuk melakukan penelitian, para researcher akan lebih suka bekerjasama dengan para spesialis dibandingkan dengan dokter umum. Meskipun begitu, baik dokter spesialis dan dokter umum sama-sama berperan penting dalam peningkatan status kesehatan masyarakat.

10 Factor yang harus diperhatikan untuk memilih spesialis

  1. Jenis pekerjaan!
  2. Generalis : bekerja di primary health care
  3. Spesialis : bekerja di secondary health care
  4. Bukan generalis dan spesialis
  5. Intelektual dan Isu klinik

Mahasiswa yang ingin menjadi seorang spesialis harus mencintai apa yang akan mereka pelajari untuk mendapatkan dokter spesialis.

  1. Durasi dan jumlah pasien yang akan ditemui
  2. Tipe pasien yang ingin ditemui
  3. Status sosial
  4. Gaya Hidup
  5. Waktu belajar
  6. Persaingan mendapatkan program spesialis
  7. Penghasilan yang akan didapat
  8. Lahan pekerjaan

Personality Assessment

Introverted–Sensing–Thinking–Judging (ISTJ)

  • Dermatology
  • Obstetrics-gynecology
  • Family practice
  • Urology
  • Orthopedic surgery

Introverted–Sensing–Feeling–Judging (ISFJ)

  • Anesthesiology
  • Ophthalmology
  • General practice
  • Family practice
  • Pediatrics

Introverted–Sensing–Thinking–Perceptive (ISTP)

  • Otolaryngology
  • Anesthesiology
  • Radiology
  • Ophthalmology
  • General practice

Introverted–Sensing–Feeling–Perceptive (ISFP)

  • Anesthesiology
  • Urology
  • Family practice
  • Thoracic surgery
  • General practice

Introverted–Intuitive–Feeling–Judging (INFJ)

  • Psychiatry
  • Internal medicine
  • Thoracic surgery
  • General surgery
  • Pathology

Extroverted–Sensing–Thinking–Judging (ESTJ)

  • Obstetrics-gynecology
  • General practice
  • General surgery
  • Orthopedic surgery
  • Pediatrics

Extroverted–Sensing–Feeling–Judging (ESFJ)

  • Pediatrics
  • Orthopedic surgery
  • Otolaryngology
  • General practice
  • Internal medicine

Extroverted–Intuitive–Feeling–Perceptive (ENFP)

  • Psychiatry
  • Dermatology
  • Otolaryngology
  • Psychiatry
  • Pediatrics

Introverted–Intuitive–Thinking–Judging (INTJ)

  • Psychiatry
  • Pathology
  • Neurology
  • Internal medicine
  • Anesthesiology

Introverted–Intuitive–Feeling–Perceptive (INFP)

  • Psychiatry
  • Cardiology
  • Neurology
  • Dermatology
  • Pathology

Introverted–Intuitive–Thinking–Perceptive (INTP)

  • Neurology
  • pathology
  • Psychiatry
  • Cardiology
  • Thoracic surgery

Extroverted–Sensing–Thinking–Perceptive (ESTP)

  • Orthopedic surgery
  • Dermatology
  • Family practice
  • Radiology
  • General surgery

Extroverted–Sensing–Feeling–Perceptive (ESFP)

  • Ophthalmology
  • Thoracic surgery
  • Obstetrics-gynecology
  • Orthopedic surgery
  • General surgery

Extroverted–Intuitive–Thinking–Perceptive (ENTP)

  • Otolaryngology
  • Psychiatry
  • Radiology
  • Pediatrics
  • Pathology

Extroverted–Intuitive–Feeling–Judging (ENFJ)

  • Thoracic surgery
  • Dermatology
  • Psychiatry
  • Ophthalmology
  • Radiology

Extroverted–Intuitive–Thinking–Judging (ENTJ)

  • Neurology
  • Cardiology
  • Urology
  • Thoracic surgery
  • Internal medicine

 

Menentukan jurusan spesialis yang sesuai

  1. Dua Tahun pertama sekolah kedokteran

Dua tahun pertama sekolah kedokteran, kamu akan belajar banyak hal mengenai ilmu dasar kedokteran seperti anatomi, fisiologi, histologi, dan lain sebagainya.

Jika kamu suka mata kuliah.. Maka kemungkinan kamu akan suka..
Anatomi Surgery, radiology
Histology Pathology, dermatology
Biochemistry Internal Medicine
Neuroscience Neurology, Neurosurgery, Psychiatry, Physical medicine, dan rehabilitation
Immunolgy Pathology, dan infectius disease
Physiology Surgery, internal medicine, anasthesiology
Behavioral Science Psychiatry
Genetics Pediatrics
Molecular biology Pathology
Microbiology Infectious disease
Pathology Pathology
Pharmacology Anasthesiology
  1. Rotasi Klinik

Berbeda dengan ilmu kedokteran dasar yang dipelajari saat kuliah, pada rotasi klinik saat ko-ass kamu akan medalami setiap aspek dalam spesialisasi yang dipelajari. Di setiap departemen spesialisasi, kamu harus bertanya pada residen yang sedang mengambil spesialis di departemen itu mengenai segala sesuatu tentang spesialis yang sedang ia dalami. Jangan lupa juga tanyakan mengenai hal yang kurang ia sukai mengenai spesialis tersebut. Pada saat kamu sedang dalam departemen tersebut, kamu harus benar-benar memanfaatkan waktu yang telah diberikan dengan baik karena hanya pada saat ko-ass lah kamu bisa mendalami dunia spesialis.

  1. Seminar/konferensi

Pada seminar kedokteran atau konferensi kedokteran biasanya dihadirkan pembicara dari spesialis tertentu untuk membicarakan topik kedokteran tingkat tinggi atau penemuan baru. Jangan malu-malu untuk menghadiri acara semacam ini. Cobalah untuk datang dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Apabila kamu merasa tertarik dan penuh rasa penasaran akan apa yang mereka bicarakan, maka kemungkinan kamu cocok apabila mengambil spesialis yang sama dengan pembicara. Sebaliknya apabila kamu merasa bosan bahkan tidak tertarik dengan apa yang sedang dibicarakan, kemungkinan kamu tidak cocok dengan spesialis tersebut.

  1. Membaca Jurnal-Jurnal pada waktu senggang
  2. Bergabung dengan projek-projek ilmiah
  3. Menghadiri pertemuan-pertemuan Internasional
  4. Diskusi dengan teman sejawat
  5. Summer Externship

Spesial Consideration for Woman

Practice Style

Gaya menjadi dokter seperti apa yang kamu suka? Bertemu pasien dengan kontinuitas yang tinggi? Atau bertemu pasien yang interaksinya lebih sedikit? Biasanya wanita lebih memilih untuk bertemu pasien dengan kontinuitas yang tinggi. Apabila kamu sebagai wanita memiliki tipe seperti ini, maka kamu cocok untuk memilih obgyn atau pediatric. Apabila kamu lebih suka bekerja dengan teknologi kedokteran terbaru, maka kamu lebih cocok memilih cardiology, radiology, dan radiation oncology. Apabila kamu lebih suka bekerja pada keadaan genting, maka kamu lebih cocok memilih ilmu bedah, anasthesiology, dan lain sebaginya.

Keberadaan Teman Sejawat Laki-laki yang Dominan

Spesialis dengan keberadaan teman sejawat laki-laki yang sangat banyak biasanya adalah radiology, emergency medicine,  surgery, dan ophtalmology. Kamu harus mempersiapkan diri untuk hal-hal yang tidak diinginkan seperti komentar-komentar tidak mengenakkan, gender bias, dan bahkan sexual harrashment. Apabila keberadaan lingkungan kerja tidak mendukung, maka fokusmu pada pasien akan berkurang. Sebisa mungkin aspek ini diperhatikan sebelum mengambil spesialis.

Keluarga dan keinginan untuk memilih anak

Menurut penelitian, dokter yang bahagia, apapun program spesialis yang dia ambil, adalah dokter yang memiliki anak. Apabila pada saat menempuh program spesialis kamu ingin menikah dan memiliki anak, kamu harus sangat memperhatikan aspek ini. Kenapa? Karena beberapa program spesialis tidak mengijinkan kita untuk cuti untuk memiliki anak. Beberapa dokter spesialis bahkan harus memulai rencana untuk memiliki anak ketika usianya mencapai 29 tahun. Pada saat kamu sudah masuk ke dunia pekerjaan sebagai dokter spesialis, kamu harus mampu membagi waktu antara tugas sebagai dokter spesialis, waktu sebagai istri, dan waktu sebagai seorang ibu.

Combined Residency Program

Galau memilih ingin jadi spesialis ilmu penyakit dalam atau spesialis anak? Kenapa tidak dua-duanya saja? Dunia kedokteran masa kini menawarkan pilihan ini kepada para calon dokter spesialis. Ini merupakan kesempatan yang sangat bagus karena kamu dapat mempelajari dua dunia spesialis yang berbeda sekaligus. Berikut adalah tabel kombinasi spesialis:

Tipe Jangka waktu belajar Jumlah program terakreditasi
Internal medicine-Dermatology 5 2
Internal medicine-emergency Medicine 5 9
Internal medicine-family medicine 4 5
Internal medicine-neurology 5 12
Internal medicine-pediatric 4 109
Internal medicine-Physical Medicine and rehabilitation 5 6
Internal medicine-preventive medicine 4 6
Internal medicine-psychiatri 5 24
Neurology-diagnostic neurology-neuroradiology 7 3
Pediatric-emergency medicine 5 3
Pediatric-medical genetics 5 8
Pediatric-Physical Medicine and rehabilitation 5 5
Pediatric-psychiatri-child and adolescence psychiatry 5 9
Psychiatry-family practice 5 11
Psychiatry-neurology 5 9

Kenapa kamu harus memilih dua jenis spesialis?

  1. Kamu akan menjadi dokter yang hebat
  2. Kamu akan memiliki karir yang sangat flexible
  3. Meningkatkan lapangan pekerjaan karena kamu bisa menjadi apa saja
  4. Menyingkat waktu belajar

Kesulitan mengambil dua jenis spesialis

  1. Hanya sedikit mentor/tutor/dokter dengan double spesialis yang dapat mentrasfer ilmu
  2. Flexibilitas untuk mempelajari subspesialis menjadi berkurang
  3. Jadwal yang bentrok
  4. Dan lain sebagainya

Pilihan untuk mahasiswa kedokteran yang masih belum memiliki pilihan

  1. Menunda pilihan spesialis dengan menjalani program internship
  2. Memilih dua jenis program spesialis
  3. Apabila sudah terlanjur terjun di program spesialis yang kurang diminati maka segeralah pindah program spesialis. Mungkin agak berat, tapi ini jauh lebih baik dibanding harus terjebak bekerja tidak sesuai dengan pasoin.
  4. Menunda kelulusan untuk mendapat pengalaman lebih lama di rotasi klinik

Applying for Residency: Matching Progam

  1. Posisikan program spesialis yang diinginkan pada posisi pertama
  2. Jangan memasukan program spesialis yang tidak kamu inginkan ke form pendaftaran
  3. Apabila kamu disuruh memilih 10 program spesialis yang diinginkan, tulislah 10 pilihan tersebut di form pendaftaran. Jangan ada yang dikosongkan

Tips for Matching Couples and Married Couples

  1. Menjaga komunikasi dengan baik

Bicarakan dengan baik program spesialis yang ingin kamu ambil. Mungkin saja program spesialis yang ingin kamu mabil mungkin akan berbeda dengan pasanganmu. Hal ini sangat rawan untuk terjadinya putus hubungan atau perceraian. Apabila permasalahan ini dapat dibicarakan baiak-baik, maka jalinan cinta yang telah lama dirajut bisa dipertahankan.

  1. Pilih tempat belajar yang tepat! Usahakan memilih lokasi geografik yang sama
  2. Apply program sedini mungkin sehingga kesempatan untuk belajar spesialis di lokasi geografik yang sama akan semakin besar.
  3. Pada saat interview, jangan lupa beritahu pewawancara bahwa kalian memiliki pasangan
  4. Tunjukkanlah bahwa kalian memang sepasang kekasih! Be aggresive!
(article by: praraous)
Categories:

7 Comments

Regita Ardhana · 6 June 2018 at 13:09

Halo!

Aku sudah baca post-an website kakak, postingannya sangat membantu dan nambah wawasan hehe.
Anyway aku masih di SMA nih, mau kedokteran karena udah cita-cita dari TK sampai sekarang, aku belajar terus dan lebih memahami dunia medis ini tentunya. Bahkan aku sudah punya cita-cita mau ambil spesialis apa haha. Meskipun di Personality Assessment ENFP gaada Anesthesiology tapi aku gaakan nyerah hehe dan karena aku pikir aku bakal nyaman banget disana terlepas dari experience yang pastinya baru aku dapat dari kakak-kakak di google dan yang sekarang lagi menjalani ko-ass ~

Terima kasih untuk pembahasannya kak!
Kalau ada informasi tentang Anesthesiology kasih tau aku ya hehe.

Salam,
Regita Ardhana

    Rafidah Maulida · 9 June 2018 at 11:31

    Hi Regita..
    Km bener banget jika web ini sangat membantu, aq juga punya cita” jd dokter sejak tk, btw aq juga masih SMA tp udah tentukan terjun ke spesialis apa hehe..
    Walaupun belum yakin, aku sangat suka mempelajari bagian saraf dan otak
    Mudah” km juga bisa menggapai impianmu..

    Terimakasih untuk pembahasan yg sangat bermanfaat ini..terimakasih kak.
    Salam
    Afi

Rachal Patronella · 13 August 2018 at 15:55

What’s up, after reading this awesome piece https://bzp65.com/

Pablo Sumey · 14 August 2018 at 07:53

good stuff. I will make sure to bookmark your blog. https://bzp65.com/

Robbie Rahaman · 14 August 2018 at 23:17

It?s hard to come by knowledgeable people on this subject, however, you https://bzp65.com/

Lashon Russak · 15 August 2018 at 09:45

Black on black in the Charger I’m creepin’ Rub me the right way, you might get a genie B.o.B, black Houdini https://bzp65.com/

Vonnie Kottke · 15 August 2018 at 23:45

of writing i am as well delighted to share my know-how here with colleagues. https://bzp65.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *